Tampilkan postingan dengan label Prinsip Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prinsip Hidup. Tampilkan semua postingan

Mendapat Kekuatan dari Orang Terdekat

"Dua orang yang bepergian bersama dapat menangkis serangan, tapi orang yang sendirian mudah dikalahkan. Tiga utas tali yang dijalin menjadi satu, sulit diputuskan." (Pengkotbah 4:12 BIMK)

Manusia itu unik ya.... Mandiri sih mandiri tapi kalau kita mau jujur, sebagai manusia kita tidak merasa secure (aman) dengan keadaan diri kita. Kita perlu memiliki orang yang dekat dengan kita untuk menguatkan kita, mungkin memberi pujian atau kritik yang membangun atau juga kata-kata yang menghibur ketika kita lagi "down"....

Ya, kita memang memiliki Tuhan Yesus. Tapi itulah sebagai manusia kita masih perlu teman yang bisa mendampingi kita di saat susah maupun senang. Saya kira itu juga sebabnya Tuhan Yesus tidak mengirim murid-muridNya secara sendiri-sendiri tapi berdua-dua dalam mengabarkan Injil....

Friends, kita perlu teman. Bila kita sudah berkeluarga, pasti mengerti bahwa suami/istri yang penuh pengertian jauh lebih bernilai daripada harta yang banyak. Liburan keliling dunia, tidak sebanding dengan duduk dekat, ngobrol akrab dengan orang yang kita sukai dan menyukai diri kita juga.

Kekuatan dari Teman Terdekat
Demikian pula ketika kita sedang diterjang badai kehidupan, entah di bisinis, pekerjaan, karir, apapun bentuknya. Kita akan merasakan kekuatan yang lain bila ada yang mendampingi kita. Kekuatannya berbeda..... Ketegaran dan kemantaban emosi kita pasti tidak sama.... Teman yang ada di dalam masa yang susah itu seperti benteng pertahanan yang menopang kita dari terpaan badai yang kuat,... :-}

Memang begitu semestinya. Jangan merasa salah kalau kita harus mendapatkan dukungan dari orang terdekat kita. Memang begitu adanya. Ketika Adam diciptakan, Tuhan memberikan "Penolong". Wow luar biasa. Memang sudah seperti itu design nya. Sebaliknya juga orang terdekat kita akan mendapatkan pertolongan dari diri kita ketika mereka mengalami masa-masa yang sulit dalam hidupnya.

Saudara-saudari, it is beautiful. Indah hidup dengan cara demikian. Demikian pula dalam situasi sebaliknya, saya temui true happiness akan dapat kita temui ketika kita mengalami liburan, keberhasilan, kekayaan materi bersama-sama dengan orang yang terdekat. Jauh berbeda dari mengalami itu semua sendirian.... so lonely...

Resep yang Dicuri 
Banyak orang tidak menglami prinsip yang luar biasa ini karena tidak mengerti atau tidak mengalami experience ini dalam persahabatannya, pernikahannya, atau dalam hubungan-hubungan yang dia miliki.

Rugi sekali. Bahkan bisa tragis dalam kehidupan beberapa orang. Berapa orang yang bunuh diri, lari pada narkoba atau menjadi gila karena dalam masa-masa sulit dia tidak memperoleh teman yang mendampingi melalui proses yang berat tersebut. Oh ya... Tuhan Yesus pasti adalah sumber kekuatan kita yang terutama. Itu sudah pasti. Itu tidak bisa ditukar dengan apapun juga. Amin.... Tapi selain itu kita perlu kekuatan dari orang-orang, pasangan, teman-teman yang Tuhan Yesus berikan kepada kita di dalam hidup ini.

"Dua orang yang bepergian bersama dapat menangkis serangan, tapi orang yang sendirian mudah dikalahkan. Tiga utas tali yang dijalin menjadi satu, sulit diputuskan." (Pengkotbah 4:12 BIMK)

Dapatkan dan Pelihara Baik Baik
Saudaraku...., hubungan yang baik dengan pasangan hidup, teman, sahabat, bahkan saudara kandung, perlu dipelihara. Sebab hubungan yang baik itu adalah kunci untuk memperoleh dukungan dan kekuatan ketika kita memerlukannya. 

Jangan buat orang terdekat menjadi jauh karena sikap-sikap kita sehingga ketika kita perlu, tidak ada orang yang menolong kita. Pasangan kita bisa saja duduk disamping kita, tapi apakah kita dapat merasakan empathy dan support yang tulus dari dia. Kita dan pasangan kita pasti paling mengerti apakah ada koneksi, hubungan yang terjalin kuat pada saat tersebut. 

Bila kita menjauhkan orang-orang terdekat kita dengan perkataan dan sikap kita,... jangan harap kita bisa mengalami dukungan ynag tulus dari mereka.

Banyak sekali nasehat di kitab Amsal dalam hal ini. Yang paling populer tentunya..
"Tinggal di sudut loteng lebih menyenangkan daripada tinggal serumah dengan istri yang suka pertengkaran." Amsal 25:24 BIMK 

Ini juga berlaku untuk para pria. Jangan kaget, jaman ini banyak juga pria yang cerewet dan suka ngomel. Nah kalau teman, pasangan kita tidak pernah betah dekat dengan kita dalam keadaan sehari-hari, bagaimana mungkin kita akan merasakan kedekatan yang powerful ketika kita diterjang badai. Mustahil.... Dan akan terasa dibuat-buat.

Kita perlu belajar berkata-kata yang baik dan pada tempatnya. Ah saya kira banyak sekali seminiar atau bacaan tentang hal ini. Namun menerapkannya sehari-hari lebih penting dan perlu.

"Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak." Amsal 25:11  

Awal Tahun Resolusi Baru
Saudara-saudariku, di awal tahun kita mungkin punya banyak resolusi. Namun satu hal ini tidak kalah penting. Mungkin banyak komitmen baru dalam karir, bisnis dan pekerjaan kita. Namun alangkah baiknya membuat komitmen untuk membuat orang-orang terdekat kita nyaman dalam hubungan yang kita miliki. Dengan sikap, dengan perkataan, dengan pemberian-pemberian, kita perlu memelihara dan mempererat hubungan-hubungan yang kita miliki. 

Be blessed,
Binsar

Kunci Sukses: Kemampuan VS Tahan Godaan


Ada satu kisah yang menarik tentang mencapai tujuan. Dari kisah ini ada satu kesimpulan yang menarik. Tapi sebelumnya saya mau berikan satu pertanyaan. Menurut anda seseorang gagal mencapai sukses karena kurang kemampuan atau karena tidak tahan godaan?

Banyak orang mengikuti seminar dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuannya di profesinya. Itu tidak salah. Tapi kenyataannya banyak orang gagal karena godaan dan bukan karena kurang mampu. Sebaliknya banyak orang sukses bukan karena kemampuannya namun karena integritasnya. Banyak orang yang lebih pintar dari Alfa Edison tapi beliaulah yang mengandalkan kekuatan fokus dan sikap pantang menyerah untuk mencapai sukses. Banyak orang yang lebih pandai memasak ayam goreng tapi Colonel Sanders lah yang dengan keteguhan hatinya berhasil menjadikan KFC suatu franchise restaurant cepat saji yang menjamur keseluruh dunia.

Kemampuan VS Tahan Godaan.
1 Korintus 10:7-11  dan supaya jangan kita menjadi (1) penyembah-penyembah berhala, sama seperti beberapa orang dari mereka, seperti ada tertulis: "Maka duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria." Janganlah kita (2) melakukan percabulan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang. Dan janganlah kita (3) mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular. Dan janganlah (4) bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut. Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.

Apa sih penyebab orang gagal dalam karirnya? Dalam Rumah Tangganya, dalam usahanya atau dalam studi yang dia sedang ditempuh?. Kita ingin tahu penyebab kegagalan agar kita tidak harus jatuh ke lubang yang sama yang sudah menelan korban jutaan orang Israel di padang gurun.

Orang Israel adalah bangsa yang sangat dimanjakan Tuhan dan begitu banyak mujijat dikerjakan Tuhan bagi bangsa ini termasuk dengan menbantu mereka dalam berperang mengalahkan musuh-musuh mereka.  Sekalipun bangsa-bangsa besar yang mereka hadapi, semua ditaklukkan oleh bangsa Israel dengan jumlah tentara yang jauh lebih sedikit. Dan ini sebetulnya merupakan prinsip sukses mereka. Bukan kekuatan sendiri tapi mengandalkan Tuhan yang berperang bagi mereka.

Namun tragisnya, sebagian besar dari mereka tidak menikmati tanah perjanjian. Dan itu bukan karena mereka kalah oleh bangsa-bangsa musuh mereka. Melainkan disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri.

Bukankah kita sering melihat orang-orang yang begitu berpotensi untuk menjadi orang besar, orang sukses, namun ditengah jalan menuju sukses, mereka gagal dan berjatuhan. Padahal mereka sebetulnya memiliki bakat, people skill, kecerdasan dan apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi sukses.

Firman Tuhan katakan, bangsa Israel sebetulnya sudah dipastikan akan berhasil menikmati sukses dan tanah perjanjian yang Tuhan janjikan. Sudah dipastikan!... Tinggal melangkah masuk. ....... Namun mereka jatuh karena tidak bisa menahan diri. 

Godaan pertama adalah penyembahan berhala. 
Penyembahan berhala begitu menarik bagi banyak bangsa karena pada jaman tersebut penyembahan berhala adalah gabungan antara pemujaan berhala dan okultisme dengan kenikmatan Orgy dan pesta pora. Bangsa Israel sudah lihat ini di Mesir dan ketika mereka tidak sabar menantikan Musa di gunung Horeb, mereka segera kembali kepada kebiasaan Mesir ini.

Jaman sekarang banyak orang mau cepat berhasil dengan lobby dan pendekatan-pendekatan menggunakan uang, seks, okultisme dibanding harus bersabar dan mengandalkan Tuhan Yesus. Persepsi yang salah menggambarkan gereja sebagai pembuat larangan tidak boleh ini tidak boleh itu.Tapi percayalah, banyak jalan yang kelihatan baik tapi ujungnya maut. Cara Tuhan Yesus selalu The Best.

Godaan Kedua adalah Seks dan Affair.
Saya kira sudah terlalu banyak berita kita dengar tentang ini di Infotainment bukan hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Skandal di World Bank, senator-senator di USA dan anggota parlemen Indonesia misalnya. Kejatuhan dan kegagalan untuk mencapai sukses, mempertahankan sukses dan mencapai sukses yang lebih tinggi lagi disebabkan karena tidak bisa menguasai diri. Bukan karena tidak mampu berprestasi.

Mencobai Tuhan.
Dalam konteks bacaan diatas, juga di kitab Bilangan, bangsa Israel mencobai Tuhan dengan cara membuat jengkel Tuhan melalui ketidak percayaan mereka pada janji-janji Tuhan. Sikap mencemooh dan tidak perduli kepada ibadah adalah godaan yang dialami semua orang baik yang sedang melalui tekanan atau yang baru mengalami sedikit sukses. Arogan dan sombong adalah awal dari kehancuran. Tapi takut akan Allah dan rendah diri adalah dasar untuk promosi.

Bersungut-sungut
Menggerutu, komplain, marah-marah dan mengeluh adalah bukti bahwa seseorang tidak mensyukuri apa yang Tuhan sudah dan sedang lakukan bagi orang tersebut. Bukan hanya melemahkan semangat, sikap ini juga mengganggu suasana kerja, suasana rumah tangga dan suasana apapun dimana orang ini berada. Berdekatan dengan orang yang kerjanya mengeluh akan mengakibatkan seseorang gagal dan juga menjauhkan mereka dari orang-orang yang sebetulnya ingin membantu untuk mencapai suatu tujuan.

Sebaliknya dengan menahan diri melalui ibadah dan saat-saat intim dengan Tuhan Yesus, seseorang dengan kemampuan terbatas pun akan mampu melakukan hal-hal yang besar. Gideon, Yusuf, Daud, dan banyak pahlawan-pahlawan iman di masa lalu adalah beberapa contoh dimana orang yang biasa menjadi luar biasa karena mengandalkan Tuhan. 

Mungkin mereka pernah gagal dan jatuh pada godaan, namun seseorang yang jatuh tidak berarti tidak bisa bangkit dan kembali kepada Tuhan bukan?. Seperti Daud. Dia bangkit dan tidak pernah jatuh kepada kesalahan yang sama berulang kali.

Kemampuan? Itu penting. Tapi waspada pada godaan, lebih penting lagi. 

All blessings,
Binsar  

Mencari Tantangan

Semua orang tahu bahwa seseorang akan semakin kuat setelah melewati situasi yang berat. Lihat saja tentara baret hijau yang baru menyelesaikan training camp yang berat. Badannya lebih berotot tapi bukan hanya itu. Mentalnya semakin kuat dan kepercayaan dirinya juga semakin mantap.

Tapi tunggu sampai mereka kembali dari suatu misi yang berat di hutan belantara atau misi penyelamatan seperti peristiwa Woyla misalnya. Tentara seperti ini tidak bisa dibandingkan dengan mahasiswa Akabri yang baru masuk kampus. Keyakinan dirinya, skill yang yang terbentuk di medan perang bukan teori yang didapat di bangku kampus. Mereka adalah tentara yang sudah teruji.

Semakin banyak medan perang yang mereka hadapi, semakin kuat dan semakin dapat diandalkan mereka di medan yang sulit sekalipun. Ya tidak.

"Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu—yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api" (1Pet 1:6-7a)

"sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." (Yak 1:3-4)

Cara pandang yang berbeda
Tuhan Yesus mengajarkan sesuatu yang tidak banya muridnya mengerti. Bahkan di jaman sekarang tidak banyak pengikut Kristus yang mau menerima bahwa Tuhan Yesus memanggil kita bukan untuk menjadi kaya dan tidak kekurangan dalam segala sesuatu. Tuhan  berkata:

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Mat 16:24)

Tuhan Yesus menyiapkan murid-murid untuk memiliki cara pandang yang benar tentang hidup. Tentang apa yang dikejar dalam hidup ini. Tentang apa yang harus diantisipasi dalam hidup ini. Yaitu Salib dan penyangkalan diri. Hardship. Tantangan. Ujian. Proses. Kesulitan.

Kesuksesan adalah Perhentian Sementara 
Bila setelah melalui Ujian dan proses, seseorang mendapatkan sukses di pekerjaan, usaha atau profesinya, itu hanyalah perhentian sementara. Berhenti di Pit Stop hanyalah untuk melanjutkan perlombaan. Bukan saatnya untuk menerima piala. Piala bagi murid Kristus baru akan diberikan ketika kita bertemu Tuha nanti.

Karena untuk terus bertumbuh semakin dewasa dan semakin kuat dalam iman, seseorang harus kembali masuk kedalam proses yang baru dan yang lebih berat dari sebelumnya. Wow. Jadi begitu ya?

Sebab itu sebetulnya seorang murid Kristus tidak boleh membenci tantangan, ujian dan proses yang kadang menyakitkan. Sebaliknya justru mengantisipasi dan bersiap selalu untuk itu. OK kalau dibilang kita harus "mencari tantangan", "mencari kesusahan" mungkin agak ekstrim. Tapi sebetulnya itu esensi dari Kekristenan.

"Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu" (Mzm 34:20)

"Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu." (1Pet 4:12)

Seseorang tidak mengalami pertumbuhan iman dalam masa kelimpahan dimana semuanya baik-baik saja. Justru di masa sulit, Abraham, Yusuf, Daud dan para pahlawan iman di Ibrani pasal 11 mengalami pembentukan yang membuat mereka memiliki iman dan karakter Kristus yang kuat. Salomo dan Nebukadnezar menuju kejatuhan ketika hidup dalam kenikmatan dan sukses.

Mengejar Mahkota yang Kekal
Murid Kristus mengejar sesuatu yang kekal. Mereka tidak hidup untuk memperoleh beberapa rumah dan mobil dan deposito yang cukup untuk pensiun dan menyekolahkan anak-anak mereka.

Hidup dari Tuhan terlalu dangkal bila hanya untuk memperoleh hal-hal tersebut.  Murid Kristus bangun tiap hari dengan satu tujuan. Yaitu masuk kedalam api ujian yang baru dan keluar semakin kuat setiap hari.

"Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (Yak 1:12)

Murid Kristus tidak akan pensiun sampai berjumpa dengan Tuhannya. Tidak pernah.

Bila ujian dalam kesabaran sudah dilalui, mereka akan siap masuk kedalam ujian dalam bentuk lain di pekerjaan, di rumah tangga, di pelayanan, dan di konteks apapun untuk mengejar perubahan diri menjadi semakin baik, sampai gambar Kristus terbentuk dalam dirinya.

"Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara." (Rom 8:29)

Takut pada Tantangan? "No way !"

Dengan anugerah Kristus kita akan semakin kuat. Amin
All blessings,
Binsar

Tuhan Yang Suka Berkerja


Berkerja untuk Beristirahat Vs Beristirahat untuk Berkerja?
Ada satu hal yang kebanyakan orang salah mengerti tentang tujuan hidup kita. Tentang apa maksud Tuhan menciptakan manusia dan menempatkan anda dan saya di muka bumi ini...Dan karena salah mengerti akibatnya kita tidak pernah bisa menikmati hidup ini seperti yang seharusnya....

Sebetulnya apa alasan kita melakukan pekerjaan kita?

Banyak orang bekerja supaya cepat kaya dan lalu bisa pensiun dini dan setiap hari seterusnya bisa beristirahat di tepi pantai bersantai-santai tanpa harus berkerja lagi sepanjang hidupnya.... Tapi kenyataannya, percaya atau tidak,... mereka yang pensiun dini dan tidak memiliki aktifitas, justru cepat sakit-sakitan dan tidak bahagia dengan hidupnya.

Friends, Tuhan tidak memberikan istirahat supaya kita tidak perlu lagi bekerja.... Sebaliknya Tuhan memberikan Sabat di hari ketujuh agar keesokan harinya, Adam bisa mulai bekerja di taman Eden. Demikian pula dengan Tuhan. Setelah minggu penciptaan, Tuhan tidak lalu mengambil cuti panjang sampai bertemu kita di akhir jaman. Selama ini Tuhan tidak pernah berhenti berkerja dan berkarya...

"Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel." (Maz 121 2, 4)

Tuhan adalah Tuhan Yang Tidak Berhenti Berkarya
Tuhan menciptakan kita sesuai dengan gambarNya. Dan bila Allah kita adalah Allah yang berkerja,.... Dia tidaklah Allah bila Dia tidak senantiasa berkerja,... Dan kita tidak akan puas dengan hidup kita bila kita tidak melakukan aktifitas pekerjaan seperti Bapa kita. Di kitab Mazmur diatas, Allah senantiasa ada untuk menolong dan tidak pernah terlelap karena keterusan beristirahat. Bahkan ketika Tuhan Yesus hadir di muka bumi ini, Dia memilih suatu profesi sebagai tukang kayu sebelum memulai pekerjaan pelayananNya. Artinya,... sebagai Allah, sekalipun waktunya belum tiba untuk berkotbah, Tuhan tidak bisa tinggal diam dan harus melakukan sesuatu yang produktif dalam hidupNya. Amazing !

Banyak orang punya konsep yang salah tentang kekekalan. Tuhan tidak pernah bilang bahwa kita akan selalu tinggal di surga bersantai sampai selama-lamanya.... Ini justru pengajaran yang membuat orang Kristen jadi malas dan tidak berkarya. ... Di kitab Wahyu 22:5 digambarkan bagaimana sisa hidup kita dalam kekekalan, saat Iblis sudah disingkirkan dan Tuhan memberikan langit dan bumi yang baru...

"Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya." (Wah 22:5)

Good News? or Bad News?

Mengisi Kekekalan Untuk Berkerja Bukan Berlibur.
Menurut ayat diatas, kekekalan akan kita isi dengan bekerja dengan memerintah bersama Yesus. Exactly persis seperti yang dilakukan Adam dan Hawa di Taman Eden sebelum mereka jatuh dalam dosa.  Hidup mereka diisi dengan berkarya, menguasai bumi dan menaklukkannya dan mereka merasa sangat puas melakukannya.

Sebab itu kita tidak akan puas ketika kita berhenti berkerja. Mungkin kita tidak puas karena melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan talenta dan bakat kita. Tapi berkerja dan berkarya adalah panggilan hidup dan kepuasan sebagai gambar Allah.


Kepuasan Sejati Diperoleh Dalam Berkarya
Jangan berpikir untuk berlibur terus-terusan,.. itu tidak akan memberikan kepuasan. Bekerja dan pikirkan hal baru untuk lebih kreatif dalam pekerjaan, maka engkau akan memiliki hidup yang penuh dan puas.

Tunjukkan pada saya orang yang berbagia, pasti orang tersebut sedang melakukan sesuatu yang produktif dan kreatif dalam hidupnya. Tunjukkan orang yang lesu dan miserable, pasti dia tidak tahu apa yang harus dikerjakannya dengan waktunya hari ini atau esok hari.

"Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah." (Peng 3:13)

Selamat Berkarya dan God bless you,
Binsar

Mulai dengan Sukses-Sukses Kecil (1)
































HIdup harus dimulai dengan kemenangan-kemenangan kecil. Apapun itu. Sekecil apapun pencapaian yang kita peroleh, setiap orang harus mengalami suatu kemenangan.

Saya suka mengamati wajah dan kehidupan seseorang. Dan tidak ada yang lebih membuat prihatin dibanding dengan seseorang dengan wajah yang hampa, tanpa tujuan, tidak ada kepercayaan diri dan tidak ada percikan gairah dalam sinar mata dan wajahnya. Hidup hanya jadi sekedar menunda kekalahan kata seorang poet.

No !

No - dan No yang sangat keras harus saya katakan bagi mereka yang berada dalam situasi seperti itu.

Hidup kita penuh dengan potensi kemenangan dan siapapun bisa mengalami itu semua. Banyak orang tidak mengalami ini karena tidak tahu apa yang harus dicapai dan tidak tahu bagaimana mencapai suatu prestasi untuk hidupnya.

Saya menganjurkan untuk membuat target-target prestasi yang mudah dulu. Apa itu?

Bagaimana kalau saya tawarkan prestasi ini: "Bisa Memuji orang dengan baik" ?

Mudah bukan?

Tapi ini sangat penting. Bila seseorang mengerti cara memuji orang dengan benar, dia akan disukai orang dan akan memiliki banyak teman. Ini adalah prestasi yang sangat penting. Pencapaian yang bisa me-revolusi kehidupan dan kesuksesan bisnis, pekerjaan dan rumah tangga seseorang.

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang. (Ams 16:24)

Memuji dengan baik bukanlah menjilat semua orang yang kita temui dan melemparkan kata-kata manis secara sembarangan. Pujian yang sembarangan justru bisa membuat orang muak dan menjauhi kita.

Pujian yang baik paling tidak harus dimulai dengan:

Add caption
1. Ketulusan yang didasari oleh Kasih Yesus. Pujian dikeluarkan bukan karena kita mengharapkan imbalan untuk kepentingan kita. Memberi Pujian didasari pengertian bahwa semua orang hidup dalam tekanan, permusuhan, persaingan, kecemburuan yang membuat insecurity dan tidak percaya diri yang mencuri sukacita orang-orang yang kita temui.

Kehidupan kota besar dan persaingan hidup membuat orang jarang tersenyum dan berbahagia. Nah pada siatuasi seperti ini, sangat dibutuhkan orang-orang yang mau menolong dan memberikan kehidupan kepada sekelilingnya. Dan dengan dasar itulah kita memberi pujian dan kata-kata yang membangun bagi mereka yang di sekeliling kita.

Dasarnya adalah karena kita mengasihi mereka yang kita puji.

2. Pujian harus tulus dan benar. Jangan memberi pujian yang palsu. Banyak sekali yang kita bisa puji dari seseorang bila kita bisa melihat sisi lain dari seseorang.

Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak. (Ams25:11)

Kepada orang yang overweight kita bisa memuji tatanan rambutnya. Orang yang berwajah kurang cantik, kita bisa puji cara berpakainnya yang rapi. Dengan memperhatikan seseorang kita akan dengan mudah menemukan banyak hal yang kita bisa puji pada orang tersebut. Apalagi kalau seseorang melakukan sesuatu yang baik. Kita harus memuji pekerjaannya. Bila seseorang menolong kita, kita perlu berterimakasih dan memberi pujian.

Percalah, pujian kita yang tulus akan terkenang sepanjang hari dan membuat hidup seseorang berkesan dan indah.

Pujian yang tulus dan benar menurut saya serupa dengan doa berkat bagi mereka yang menerimanya. Oleh karena itu, mereka yang suka memberi pujian adalah orang yang memberkati orang di sekelilingnya. Dan itu dilakukan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun alias tanpa biaya.

Orang yang suka memuji adalah sumber berkat bagi sekelilingnya. Sumber air sejuk bagi padang gurun yang gersang. Matahari bagi dunia yang berkabut dan gelap.

Sebab itu mereka yang mampu memuji dengan baik dan benar adalah orang-orang yang berprestasi. Orang yang memiliki Pencapaian. Orang yang sudah suskes dalam suatu bidang.
Friends, jangan hidup tanpa prestasi. Banyak pencapaian dalam hidup ini. Dan kita semua bisa mencapainya. Satu persatu. Mulai dari yang mudah yaitu Sukses dalam memuji seseorang.

All blessings,
Binsar

Mulai Dengan Sukses-Sukses Kecil (3)


Kemenangan simple lain.nya yang kita bisa capai dalam hidup ini adalah gaya hidup "Mengampuni". Mungkin tidak semua orang akan menjadi milyuner, menjadi selebriti atau businessman dengan  banyak perusahaan yang dikuasainya. Tapi setiap orang bisa menjadi seorang yang Sukses dalam mengampuni orang yang bersalah padanya. Mengampuni tidak perlu mengeluarkan biaya atau tingkat pendidikan yang tinggi. Mengampuni dan gaya hidup mengampuni adalah suatu pilihan, seperti suatu switch lampu yang kita putuskan untuk kita pindahkan dari OFF ke ON.

Mengapa Memilih Mengampuni?
Bukankah lebih enak menyimpan sedikit dendam dalam hati kita? Wah sadis sekali sikap yang demikian ya...?

Sebetulnya setiap perasaan tidak enak yang kita miliki pada seseorang membuat susah diri kita sendiri. Dendam dan benci membuat pikiran kita kusut dan hati kita sebal. Akibatnya kita mengalami "bad day", sepanjang hari jadi susah. Yang mestinya menyongsong pekerjaan dengan gembira dan semangat malah menjadi rusak seluruhnya. Yang rugi siapa?.... Kita sendiri.


Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta. (Ams 15:13, 15)

Saya mengenal beberapa orang yang terbiasa menyimpan dendam artinya mudah sekali tergoda untuk sakit hati dan benci. Bila sudah menjadi gaya hidup maka apapun hal kecil yang orang lain lakukan selalu dipandang negatif. Dan karena bertahun-tahun atau mungkin puluhan tahun "dilakoni", wajahnya pun menjadi menakutkan. Perkataannya juga pedas dan akhirnya teman dan keluarga juga tidak betah untuk dekat-dekat dengan mereka. Menyedihkan bukan?

Ok. Kalau kita merasa sayang untuk mengampuni orang yang bersalah pada kita. Kita  merasa orang itu terlalu keenakan menerima pengampunan kita, coba timbang pengaruhnya kepada hati, pikiran dan tubuh kita....

Hati yang gembira adalah obat. Tapi juga hati yang susah mendatangkan banyak penyakit. Para dokter sudah melakukan riset dan menemui bahwa sebagian besar penyakit secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi kondisi hati dan pikiran seseorang.

Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri,... (Ams11:17a)   

Pengampunan Mendatangkan Pengampunan
Tuhan secara gamblang mengatakan bahwa doa seseorang tidak akan didengar kalau tidak dimulai dengan pengampuan atas mereka yang menyakiti kita. Bahkan dosa kita pun tidak akan diampuni kalau kita tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kita.


Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu. (Mar 11:25, 26)


Wah rugi sekali.

Mereka yang sulit mengampuni bukan saja mukanya menjadi jelek, tapi juga dosanya tidak diampuni dan doanya tidak terkabul. Kalau sudah begitu. bagaimana bisa Sukses dalam hidup ini? Bila harapan-harapan hidupnya tidak direstui dan diberkati oleh Tuhan?

Kemenangan Kecil Yang Sangat Penting
Saya menyebutnya sebagai kemenangan kecil karena alasan yang saya sebut diawal tulisan ini. Tapi nilai dan pengaruhnya dalam hidup kita sangat besar.

Sebab itu Mengampuni harus menjadi gaya hidup.

Jangan Tunggu Sampai Tidak Siap Sedia 
Mengampuni adalah gaya hidup yang kita pilih sebelum kita menghadapi situasi buruk dimana kita sulit untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Dengan kata lain sudah terlambat. Sudah keburu sakit hati. Karena tidak siap sedia. Kita ada dalam situasi yang membuat kita terjebak untuk sakit hati dan benci.

Ketika kita memilih gaya hidup mengampuni, kita sudah mengantisipasi akan banyak peristiwa didepan kita yang bisa membuat kita sakit. Tapi kita memutuskan tidak akan terbujuk untuk menjadi sakit hati karena kita tahu bahwa kita sendiri yang akan dirugikan dengan perasaan itu. Sebaliknya kita memutuskan untuk menganggap orang yang mengecewakan kita itu mungkin sedang alpa, kelepasan bicara atau sedang "having a bad day".

Dengan pikiran yang positif seperti itu kita tidak akan menyalahkan pribadi orang tersebut. Justru kita simpati karena mungkin saja orang tersebut ada masalah dirumah, di kantor atau sedang terkena suatu penyakit. Kalau perlu kita tambah sedikit humor. Yah mungkin saja dirumah habis diomeli istri atau kalau single mungkin  baru diancam mau diputus pacar.

Lalu Bagaimana Kalau Terlanjur Benci?
Bila kita sudah punya gaya hidup yang penuh dendam atau sudah menumpuk sejak masa kecil misalnya maka tentu perlu dilayani oleh hamba Tuhan. Perlu mengalami kelepasan dari akar-akar yang sudah masuk dalam sampai ke bawah sadar. Ini misalnya karena mengalami peristiwa tragis di masa kecil, trauma psikologis yang berat-berat dsb.

Namun setiap kita bisa mengikuti petunjuk Tuhan Yesus.
Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. (Luk 6:28)


Doakan dan bayangkan dalam imajinasi kita hal-hal yang baik bagi orang yang menyakiti kita. Bayangkan dia sukses, dia kaya, dia mendapat jodoh yang ganteng atau cantik. Pokoknya kita berkati dia sekalipun kita merasa disakiti.

Memang tidak gampang. Siapa bilang gampang? Tapi kita harus memaksa diri kita untuk melakukan hal itu. Demi kebaikan kita sendiri bukan?

Dan dengan berjalan dengan waktu kita akan semakin terbiasa untuk mengampuni orang lain dengan lebih mudah.

Hati kita menjadi bersih dan pikiran kita jernih. Hidup kita menjadi gembira dan cerah. Membuat kita semangat dan kreatif dalam bekerja. Luar biasa.

All blessings,
Binsar

Tidak Kecewa (Menghadapi Penundaan)




































Yes. 64:4 Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian.

Kemampuan untuk menanggulangi penangguhan-penangguhan yang menyakitkan hati adalah bukti tentang kedalaman akar iman kita. Saya memiliki buku favorit mengenai kedewasaan rohani. Disitu dikatakan bahwa kedewasaan rohani seseorang salah satunya diukur dari reaksinya ketika menghadapi penundaan yang panjang atas janji Tuhan. Mereka yang mudah kecewa dan undur ketika doanya belum dijawab adalah kanak-kanak rohani. Seperti bayi yang minta susu. Harus diberi saat itu juga. Bila tidak, dia akan langsung menjerit dengan suara yang melengking.

Tidak demikian dengan mereka yang dewasa secara rohani. Mereka akan tetap teguh dan setia sekalipun janji Tuhan belum juga datang.

Tidak Semua Permintaan Dijawab Dengan Segera
Mengapa Tuhan tidak segera menjawab setiap doa yang kita panjatkan? Mengapa janji dan panggilannya tidak langsung saja digenapi tanpa kita harus melalui proses panjang dan menyakitkan?

Mungkin sebagian dari saudara-saudari mendapatkan suatu janji untuk keberhasilan bisnis yang luar biasa dari Tuhan Yesus. Mungkin sebagian lagi mendapat mimpi untuk menjadi pimpinan di sebuah perusahaan multinasional besar, atau keberhasilan finansial. Yang lain sedang menantikan janji Tuhan untuk pasangan hidup yang cocok. Dan mungkin sudah lima atau sepuluh tahun berlalu namun jalan menuju penggenapan janji Tuhan belum juga kelihatan.

Ketika kebutuhan begitu mendesak kita sering merasa bahwa Tuhan sangat lambat memenuhi janji-janjiNya. Tetapi hendaklah kita bersabar. Ada sebuah konsep yang dapat membantu kita untuk bersabar menunggu penggenapan janji Tuhan. Yaitu konsep waktu Tuhan (kairos). Mari kita lihat kehidupan Musa.

Tuhan Mengerti Waktu Yang Tepat Untuk Segala Sesuatu
Musa mengerti bahwa ia diutus Allah untuk membebaskan umat Israel dari tanah Mesir. Saya percaya dia menangkap panggilan itu sejak masa kecilnya, karena ia dibesarkan oleh ibu kandungnya atas perintah putri Firaun yang mengambilnya dari sungai Nil. Namun ia terlalu cepat memasuki panggilannya dan akibatnya harus melarikan diri ke tanah Midian selama 40 tahun. Pasti dia sangat kecewa atas penolakan dari orang sebangsanya sendiri. Akibatnya di usia 80 tahun kita melihat Musa yang pasif, undur dan letih serta tidak lagi memiliki semangat untuk membela bangsanya. Kenapa? Karena dia tidak mengerti waktu Tuhan.

Kita mengerti bahwa Tuhan sudah bernubuat pada Abraham bahwa bangsa Israel akan diperbudak oleh bangsa Mesir selama 400 tahun. Setelah itu baru Tuhan akan membebaskan dan membawa mereka ke tanah perjanjian. Mulanya Musa tidak mengerti akan hal ini. Musa bertindak 40 tahun terlalu dini. Dia tidak menegerti kairos Tuhan. Dia tidak sabar menanti isyarat Tuhan dan mendahului Dia ketika saatnya belum tiba. Hasilnya ... kekecewaan, penderitaan dan hati yang menjadi tawar.

Tuhan Bertindak Ketika Saatnya Tiba
Namun ketika saatnya tiba, Tuhan berbicara kepada Musa dari balik semak yang terbakar. Kita tidak akan pernah bisa memahami seluruh cara kerja Tuhan kita. Namun yang jelas, Dia perlu menyesuaikan segala sesuatu agar pada waktu yang bersamaan, semua komponen yang berhubungan dengan rencanaNya menjadi siap untuk menggenapi rencanaNya. Di akhir 400 tahun itu, kondisi bangsa Mesir, kondisi orang Israel, Firaun, dan bahkan tanah orang Mesir barulah siap untuk mengalami 10 tulah dan mujizat dari Tuhan.

Apakah anda merasa Tuhan terlalu lambat menggenapi janji-Nya? Apakah anda mau bertindak sekalipun Tuhan belum memberi petunjuk-Nya? Apakah anda kemudian kecewa karena ternyata tidak terjadi seperti yang dijanjikan-Nya? Apakah kita mulai meninggalkan komitmen kita saat jawaban Tuhan tidak kunjung datang?

Ingat. Tuhan yang mengatur waktu untuk kita. Dia mengerti waktu yang paling baik untuk menggenapi janji-Nya.

Nantikan waktu Tuhan dan anda tidak akan pernah kecewa.

Pkh 3:11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, ...... Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

All blessings,
Binsar

Menang di Peperangan Rohani

Hari hari ini apakah saudara-saudari masih bersemangat? Untuk mereka yang bekerja dengan target, tentu kita sedang bekerja dan berdoa dengan sungguh-sungguh agar tahun ini diakhiri dengan prestasi yang baik seperti yang diharapkan dari kita.

Saya mau memberi suatu informasi penting.  Hari hari ini kita perlu berhati-hati dan menyadari bahwa pekerjaan kita merupakan suatu peperangan rohani juga. Suka atau tidak, kita harus mengerti bahwa ada kuasa-kuasa yang ingin kita gagal dalam apapun usaha kita.

Pencuri (Iblis) datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Yoh 10:10

Peristiwa Rohani dibalik musibah
Saudara-saudari, sering kali kita menganggap kejadian buruk yang terjadi pada pekerjaan, bisnis dan rumah tangga kita hanyalah sesuatu yang kebetulan dan tak bisa dihindarkan. Kemudian kita menerima hal itu apa adanya dan berusaha untuk menyelesaikan persoalan itu tanpa mengerti kenapa hal itu terjadi pada kita. Jangan begitu. Jangan menganggap segala kejadian disekitar kita hanya kebetulan dan fenomena yg normal. Kebanyakan tidak begitu. Paulus mengatakan ada sesuatu dibalik itu semua. Apa yg disebut konflik di alam rohani. Peperangan kita bukan melawan darah dan daging ...

... supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Ef 6:11b, 12

Hanya Tuhan Yang Berpihak Pada Kita
Di jaman ini setiap orang punya sandaran rohani, jimat, pegangan, feng-shui, backing rohani, bahkan jin-jin, tuyul yang menjadi sandaran mereka. Anda akan surprised bila mengetahui berapa banyak orang-orang yang merupakan saingan bisnis, kompetitor, customer, bahkan rekan kantor yang bersandar pada sesuatu kekuatan lain. Ajak mereka bicara dan kita akan mengetahui siapa atau apa yang mereka andalkan untuk keberhasilan mereka. Dan perlu kita ketahui, siapa atau apapun yang tidak bersama Tuhan Yesus adalah lawan dari Keberhasilan dan Sukses yang saudara dan saya sedang usahakan (Luk11:23).

Kalau kita tidak menyadari hal ini dan tidak berjaga-jaga, kita akan mengalami kebingungan ketika menemui usaha kita digilas secara tiba-tiba. Karir kita dijegal. Proyek kita disabotase. Pelayanan kita dihambat. Asset kita dicuri atau dirusak oleh kejadian yang tak terduga.

Saudara-saudari, orang disekeliling kita punya backing-backing roh yang bertentangan dengan jalan keberhasilan kita.

Lalu apakah kita menjadi tak berdaya dan menerima begitu saja diperlakukan oleh semua penguasa-penguasa rohani disekeliling kita ini?

Penjaga Kita Lebih Kuat
Puji Tuhan, Rasul Yohanes mengatakan bahwa Roh di dalam kita lebih besar daripada yang diluar kita (1Yoh4:4). Haleluyah ! Terima kasih Tuhan Yesus. Fakta ini harus kita sadari dan pegang selalu.

Kemudian ada satu lagi yang sering kita lupakan. Yaitu pekerjaan Malaikat-malaikat pelindung kita.

Ini yang membedakan Elisha dan bujangnya. Bujangnya melihat semua peristiwa hanya seperti yang terlihat secara kasat mata. Elisha berbeda. Ia melihat sesuatu secara alam rohani juga. Dibalik ancaman fisik yang dia alami, Ia melihat ada kuasa kuasa kegelapan yg bekerja. Itu sebabnya dia perlu kuasa rohani juga untuk mem-back up dia. Dan ketika ia menyadari kehadiran Malaikat-malaikat Tuhan ia tidak takut dan kuatir.

Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: "Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?" Jawabnya: "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka." Lalu berdoalah Elisa: "Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat." Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa. (2Raja6:15-17)

Malaikat Gabriel menjelaskan hal yang sama kepada Daniel ketika dia sudah menanti begitu lama (21 hari) dan belum menerima tuntunan Tuhan ketika dia ber-doa puasa. Malaikat Gabriel menjelaskan:

Lalu katanya kepadaku: "Janganlah takut, Daniel, sebab telah didengarkan perkataanmu sejak hari pertama engkau berniat untuk mendapat pengertian dan untuk merendahkan dirimu di hadapan Allahmu, dan aku datang oleh karena perkataanmu itu. Pemimpin kerajaan orang Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya menentang aku; tetapi kemudian Mikhael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku, dan aku meninggalkan dia di sana berhadapan dengan raja-raja orang Persia. (Dan 10:12-13)
Kita tahu janji Tuhan:

Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Maz 34:8

Aman Dalam Perlindungan Tuhan Yesus
Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Maz 91:9-11

Peperangan rohani? Yes, itu memang ada. Tapi bagi mereka yang takut dan berharap pada Tuhan memiliki perlindungan penuh dari para malaikat. Mana yang lebih kuat ? Tentu saja Malaikat Tuhan. Sebab itu kita akan mengakhiri tahun ini dengan keberhasilan. Amin.

All blessings,

Binsar

Maximizing your Resource

































Belajar dari Daud (1): Maximizing your Resource

Lalu Daud pergi dari sana dan melarikan diri ke gua Adulam. Ketika saudara-saudaranya dan seluruh keluarganya mendengar hal itu, pergilah mereka ke sana mendapatkan dia. Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka. Bersama-sama dengan dia ada kira-kira empat ratus orang. (1Sam22:1-2) Kemudian pergilah Daud dengan orang-orangnya ke Kehila; ia berperang melawan orang Filistin itu, dihalaunya ternak mereka dan ditimbulkannya kekalahan besar di antara mereka. Demikianlah Daud menyelamatkan penduduk Kehila. (2Sam23:5)  

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat inspirasi dari Tuhan untuk mempelajari management dari Alkitab. Memang banyak sekali buku-buku dan seminar-seminar yang diberikan untuk mempelajari management. Tapi saya menemui bahwa Alkitab penuh dengan mutiara-mutiara yang tersembunyi mengenai topik ini. Saya memulai dengan belajar dari Daud, salah seoarang yang sangat sukses dalam sejarah. Anda tentu tidak lupa cerita from rags to riches dari Daud. Seorang muda yang berangkat dari profesi penggembala domba menjadi pendiri suatu dinasti kerajaan yang berlanjut sampai pada kekekalan. Pasti ada banyak yang bisa kita pelajari dari pribadi yang berhasil ini.

Satu pelajaran pertama dari ayat yang kita baca diatas: Maximizing your Resource dan Do not Complain for what you got.

Bersikap Positif Di Pekerjaan Yang Tidak Menyenangkan
Daud bisa saja menggerutu dan complain setiap hari atas resources yang diberikan Tuhan untuk menggenapi janjiNya: Menjadi Raja atas Israel. Bukannya mendapatkan pengangkatan yang mudah, Daud mengalami masa-masa dia berada dalam pembuangan. Disana dia bertemu dan bergabung dengan orang-orang yang terbuang dari masyarakat. Bagaimana mungkin dengan orang-orang seperti itu membentuk suatu pasukan dan kerajaan yang kuat? Dengan bawahan dan staf yang isinya orang-orang yang rata-rata gagal tidak banyak yang bisa dia lakukan dan harapkan.

Tapi lihatlah. Prinsip Daud ialah memaksimalkan resource yang apa adanya menjadi senjata mencapai sukses. Daud tidak bergantung kepada peralatan dan kemampuan yang terbatas dari stafnya. Sebaliknya dia mampu mengangkat mereka ke level yang tinggi dan mem-boost moril dan kemampuan yang terbatas itu itu menjadi mesin yang menghasilkan sukses demi sukses.

Orang Yang Bersemangat Menularkan Semangat ke Sekelilingnya
Tentu saja orang yang memiliki “semangat sukses” akan mengangkat orang yang distress menjadi orang-orang yang bergairah dan memiliki fighting spirit dan work ethics yang luar biasa. Tapi sebaliknya orang yang mudah mengeluh, tidak akan pernah sukses sekalipun diberi resources yang lengkap sekalipun.

Apakah anda saat ini dalam jabatan yang tidak menyenangkan. Lingkungan kerja yang jelek dan tidak punya potensi untuk maju? Jangan komplain dulu. Tuhan sedang melatih kita untuk menjadi pengaruh yang positif di tempat itu. Tuhan mau kita menjadi pemimpin yang menjadi contoh dan membuat orang lain berubah karena kehadiran kita. Dan staff yang tidak kompeten oleh pengaruh yang positif bisa menghasilkan suatu tim yang kuat dan kompak.

Apa yang kita bisa pelajari dari Daud?
Maximize your Resource dan Do not Complain for what you got.

All blessings,
Binsar

Menjaga Kekudusan


Belajar dari Yusuf (4): Keep the purity / fear of God despite success

Kej 39: 8 Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu: "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, 9 bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?"

Saudara/i yang dikasihi Tuhan, bahaya dari sukses adalah sukses itu sendiri. Salah satu penghalang besar bagi sesorang untuk memperoleh sukses yang lebih besar adalah rasa puas dengan sukses yang kecil itu lalu menjadi lengah. Suatu sukses bisa membuat sesorang puas diri dan merasa sudah waktunya untuk menikmati pencapaiannya itu. Dan sering saat-saat seperti itu adalah saat dimana benteng pertahannya menjadi lemah. Sering sekali kita mendengar orang yang sukses jatuh karena suatu skandal. Entah itu skandal sex, skandal keuangan, atau skandal-skandal yang lain.

Salah satu contoh terjadi pada karir Daud. Alkitab mengatakan pada musim dimana raja raja pergi berperang, dia tinggal di Yerusalem. Saat itulah dia menjadi lengah dan jatuh dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba. Puji Tuhan, Daud memiliki hati yang mudah bertobat dan mau berubah. Dia tidak pernah mengulangi kesalahan yang sama dan Tuhan memulihkan dia dan meneguhkan janji untuk Daud dan keturunannya.
Lupa Pada Tuhan Sebagai Sumber Kesuksesan
Sukses bisa menjadi berbahaya terutama bila seseorang menjadi lupa pada Tuhan. Bila seseorang sudah lupa pada Tuhan, maka dia tidak lagi takut akan Tuhan dan akan mudah sekali kompromi dengan dosa. Itulah awal kejatuhan yang senantiasa disiapkan oleh si Iblis.

Namun hal itu tidak terjadi pada Yusuf. Yusuf berbicara soal loyalty di ayat 9 diatas. Namun dia terlebih lagi menekankan bahwa dia lebih takut lagi pada Allah untuk membiarkan dirinya jatuh dalam dosa yang ditawarkan oleh istri Potifar tersebut.

Tidak selamanya menjaga kekudusan dan kemurnian menghasilkan jalan yang mulus. Itu tidak terjadi pada Yusuf. Dia dimasukkan ke penjara karena memegang prinsipnya. Namun konsekuensi keputusan Yusuf tidak membuat dia kompromi dengan dosa. Ini yang perlu kita pahami sungguh sungguh. Kita perlu mengerti bahwa bisa terjadi, kita akan mengalami, untuk sementara, kemunduran dalam karir ataupun bisnis kita karena prinsip yang kita pegang. Namun jangan kuatir. Tuhan kadang mau agar kita mengalami mundur satu langkah sebelum Dia bawa kita maju sepuluh langkah kedepan. Percaya pada Tuhan. Dia takkan mengecewakan kita.

Kekudusan Dilatih dan Dibentuk dari Awal

Kekudusan tidak terbentuk seketika. Yusuf menerapkan Kekudusan sejak dini. Sejak masih dengan karir yang kecil di rumah Potifar dia memegang kuat prinsip tersebut. Bila hal itu sudah menjadi gaya hidup, seseorang tidak akan mudah tergoda ketika dia diangkat ke jabatan yang tinggi. Itu sebabnya Yusuf menjadi figur pemimpin tanpa cela ketika dia memerintah bagi Firaun. Yusuf, seperti juga Daniel, menjadi pemimpin yang tidak tergantikan selama hidupnya. Pemimpin yang tidak pernah membuka celah yang dapat membuat mereka jatuh dalam disgrace dan nama buruk.

Apakah saudara/i sudah mulai megalami sukses dalam pekerjaan atau bisnis anda ? Jangan lengah. Dan tetap takut akan Tuhan.

Ingat, Tuhan belum selesai dengan rencananya bagi anda. Masih banyak lagi sukses yang Dia mau anda dan saya alami dalam hidup ini.

All blessings,
Binsar