Friday, January 22, 2010

Tidak Kecewa (Menghadapi Penundaan)

Yes. 64:4 Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian.

Kemampuan untuk menanggulangi penangguhan-penangguhan yang menyakitkan hati adalah bukti tentang kedalaman akar iman kita. Saya memiliki buku favorit mengenai kedewasaan rohani. Disitu dikatakan bahwa kedewasaan rohani seseorang salah satunya diukur dari reaksinya ketika menghadapi penundaan yang panjang atas janji Tuhan. Mereka yang mudah kecewa dan undur ketika doanya belum dijawab adalah kanak-kanak rohani. Seperti bayi yang minta susu. Harus diberi saat itu juga. Bila tidak, dia akan langsung menjerit dengan suara yang melengking.

Tidak demikian dengan mereka yang dewasa secara rohani. Mereka akan tetap teguh dan setia sekalipun janji Tuhan belum juga datang.

Tidak Semua Permintaan Dijawab Dengan Segera
Mengapa Tuhan tidak segera menjawab setiap doa yang kita panjatkan? Mengapa janji dan panggilannya tidak langsung saja digenapi tanpa kita harus melalui proses panjang dan menyakitkan?

Mungkin sebagian dari saudara-saudari mendapatkan suatu janji untuk keberhasilan bisnis yang luar biasa dari Tuhan Yesus. Mungkin sebagian lagi mendapat mimpi untuk menjadi pimpinan di sebuah perusahaan multinasional besar, atau keberhasilan finansial. Yang lain sedang menantikan janji Tuhan untuk pasangan hidup yang cocok. Dan mungkin sudah lima atau sepuluh tahun berlalu namun jalan menuju penggenapan janji Tuhan belum juga kelihatan.

Ketika kebutuhan begitu mendesak kita sering merasa bahwa Tuhan sangat lambat memenuhi janji-janjiNya. Tetapi hendaklah kita bersabar. Ada sebuah konsep yang dapat membantu kita untuk bersabar menunggu penggenapan janji Tuhan. Yaitu konsep waktu Tuhan (kairos). Mari kita lihat kehidupan Musa.

Tuhan Mengerti Waktu Yang Tepat Untuk Segala Sesuatu
Musa mengerti bahwa ia diutus Allah untuk membebaskan umat Israel dari tanah Mesir. Saya percaya dia menangkap panggilan itu sejak masa kecilnya, karena ia dibesarkan oleh ibu kandungnya atas perintah putri Firaun yang mengambilnya dari sungai Nil. Namun ia terlalu cepat memasuki panggilannya dan akibatnya harus melarikan diri ke tanah Midian selama 40 tahun. Pasti dia sangat kecewa atas penolakan dari orang sebangsanya sendiri. Akibatnya di usia 80 tahun kita melihat Musa yang pasif, undur dan letih serta tidak lagi memiliki semangat untuk membela bangsanya. Kenapa? Karena dia tidak mengerti waktu Tuhan.

Kita mengerti bahwa Tuhan sudah bernubuat pada Abraham bahwa bangsa Israel akan diperbudak oleh bangsa Mesir selama 400 tahun. Setelah itu baru Tuhan akan membebaskan dan membawa mereka ke tanah perjanjian. Mulanya Musa tidak mengerti akan hal ini. Musa bertindak 40 tahun terlalu dini. Dia tidak menegerti kairos Tuhan. Dia tidak sabar menanti isyarat Tuhan dan mendahului Dia ketika saatnya belum tiba. Hasilnya ... kekecewaan, penderitaan dan hati yang menjadi tawar.

Tuhan Bertindak Ketika Saatnya Tiba
Namun ketika saatnya tiba, Tuhan berbicara kepada Musa dari balik semak yang terbakar. Kita tidak akan pernah bisa memahami seluruh cara kerja Tuhan kita. Namun yang jelas, Dia perlu menyesuaikan segala sesuatu agar pada waktu yang bersamaan, semua komponen yang berhubungan dengan rencanaNya menjadi siap untuk menggenapi rencanaNya. Di akhir 400 tahun itu, kondisi bangsa Mesir, kondisi orang Israel, Firaun, dan bahkan tanah orang Mesir barulah siap untuk mengalami 10 tulah dan mujizat dari Tuhan.

Apakah anda merasa Tuhan terlalu lambat menggenapi janji-Nya? Apakah anda mau bertindak sekalipun Tuhan belum memberi petunjuk-Nya? Apakah anda kemudian kecewa karena ternyata tidak terjadi seperti yang dijanjikan-Nya? Apakah kita mulai meninggalkan komitmen kita saat jawaban Tuhan tidak kunjung datang?

Ingat. Tuhan yang mengatur waktu untuk kita. Dia mengerti waktu yang paling baik untuk menggenapi janji-Nya.

Nantikan waktu Tuhan dan anda tidak akan pernah kecewa.

Pkh 3:11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, ...... Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

All blessings,
Binsar

Tuesday, October 13, 2009

Mulai Dengan Sukses-Sukses Kecil (2)

Suatu pencapaian lain yang tidak sulit untuk dijangkau, namun tidak kalah penting artinya di dalam hidup ini adalah "contentment management". Kemampuan mengatur rasa puas, rasa cukup  dengan apapun keadaan kita. Lawannya adalah "tidak pernah puas", "selalu merasa kurang", dan "tidak bahagia" dengan apapun yang dimiliki dan dialami saat ini.
Ini suatu pencapaian yang besar karena banyak orang yang hidupnya kelihatan baik dari luar namun batinnya sengsara. Pikirannya dan hidupnya menderita karena merasa sebagai orang yang serba kurang dibandingkan dengan orang lain di sekelilingnya.



Mengapa Selalu Merasa Kurang
Kenapa orang merasa selalu kurang? Begini konsepnya,., ....bila kita mengira bahwa kepuasan diukur dari sesuatu yang di luar: materi, barang yang kita punya, HP baru, mobil baru, dll ... atau kepuasan mata, pergi berbelanja, jalan jalan ke luar negeri,... atau kepuasan jasmani, seperti makan makanan yang enak, hubungan fisik dsb maka kita salah mencari kepuasan.


Kepuasan itu berasal dari dalam. Nikmat dan bahagia itu masalah hati. Dan kita perlu belajar untuk bisa merasakan itu.

Kepuasan dirasakan ketika kita berinteraksi dengan Tuhan dan orang yang kita kasihi. Buktinya,.... ketika kita pertama kali bertemu dengan Tuhan Yesus, menerima Tuhan sebagai Tuhan dan Sahabat, kita merasakan damai dan kebahagian dan kepuasan yang tidak bisa dijelaskan. Perasaan ecstasy yang sulit dibandingkan dengan apapun juga.

Demikian pula ketika seseorang sedang jatuh cinta, dia merasakan suatu perasaan yang sulit dibandingkan sekalipun makan siangnya hanya nasi dan tempe di rumah kos-kos-an yang sederhana.

Bertemu dengan keluarga kita dan teman-teman dekat juga memberikan rasa indah yang luar biasa sekalipun pertemuan itu diadakan di restoran yang sederhana.

Tidak Sulit Menemukan Kepuasan Disekeliling Kita 
Sebetulnya setiap kita pasti pernah merasakan kebahagian dan kepuasan yang luar biasa yang diuraikan diatas.
Yang kita butuhkan adalah belajar untuk mengalami lagi suasana-suasan tersebut lebih lagi di hidup kita selanjutnya.

Bila kita mengerti hal ini maka anda dan saya menjadi orang-orang yang berbahagia sekalipun mungkin secara materi tidak naik mobil jaguar dan setiap minggu berlibur ke Paris dan Disneyland.....

Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Fil4:11b-12a, 13)  



Orang yang mengerti cara untuk berbahagia seperti Paulus bukanlah orang-orang gila. Bukan juga orang-orang yang pandai menipu diri sendiri. Juga bukanlah orang-orang yang apatis, "nrimo" dan tidak ada lagi inisiatif untuk maju. No. No. dan No.

Orang yang pintar mengatur hatinya untuk tetap berbahagia adalah orang-orang yang aktif, bersemangat, punya gairah untuk maju dan menikmasti hidupnya..... O ya....
 
Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga,  (Fil4:4,6)


Bagaimana kalau kita terlalu bergantung dengan hal-hal materi dan situasi di luar diri kita? Bagaimana kalau kepuasan kita terlalu diatur oleh keadaan disekeliling kita?

Well, caranya hanya satu. Yaitu kita mulai belajar menikmati kepuasan-kepuasan yang datang dari dalam. Temukan kembali perasaan-perasaan itu dan hidup anda akan berubah sama sekali.

Dan bila itu terjadi, anda sudah mendapatkan suatu pencapai luart biasa dalam hidup anda.

All blessings,
Binsar

Friday, August 14, 2009

Mulai dengan Sukses-Sukses Kecil (1)


HIdup harus dimulai dengan kemenagan-kemenangan kecil. Apapun itu. Sekecil apapun  pencapaian yang kita peroleh, setiap orang harus mengalami suatu kemenagan.

Saya suka mengamati wajah dan kehidupan seseorang. Dan tidak ada yang lebih membuat prihatin dibanding dengan seseorang dengan wajah yang hampa, tanpa tujuan, tidak ada kepercayaan diri dan tidak ada percikan gairah dalam sinar mata dan wajahnya. Hidup hanya jadi sekedar menunda kekalahan kata seorang poet.

No !

No - dan No yang sangat keras harus saya katakan bagi mereka yang berada dalam situasi seperti itu.

Hidup kita penuh dengan potensi kemenangan dan siapapun bisa mengalami itu semua. Banyak orang tidak mengalami ini karena tidak tahu apa yang harus dicapai dan tidak tahu bagaimana mencapai suatu prestasi untuk hidupnya.

Saya menganjurkan untuk membuat target-target prestasi yang mudah dulu. Apa itu?

Bagaimana kalau saya tawarkan prestasi ini: "Bisa Memuji orang dengan baik" ?

Mudah bukan?

Tapi ini sangat penting. Bila seseorang mengerti cara memuji orang dengan benar, dia akan disukai orang dan akan memiliki banyak teman. Ini adalah prestasi yang sangat penting. Pencapaian yang bisa me-revolusi kehidupan dan kesuksesan bisnis, pekerjaan dan rumah tangga seseorang.

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang. (Ams 16:24)

Memuji dengan  baik bukanlah menjilat semua orang yang kita temui dan melemparkan kata-kata manis secara sembarangan. Pujian yang sembarangan justru bisa membuat orang muak dan menjauhi kita.

Pujian yang baik paling tidak harus dimulai dengan:

1. Ketulusan yang didasari oleh Kasih Yesus. Pujian dikeluarkan bukan karena kita mengharapkan imbalan untuk kepentingan kita. Memberi Pujian didasari pengertian bahwa semua orang hidup dalam tekanan, permusuhan, persaingan, kecemburuan yang membuat insecurity dan tidak percaya diri yang mencuri sukacita orang-orang yang kita temui.

Kehidupan kota besar dan persaingan hidup membuat orang jarang tersenyum dan berbahagia. Nah pada siatuasi seperti ini, sangat dibutuhkan orang-orang yang mau menolong dan memberikan kehidupan kepada sekelilingnya. Dan dengan dasar itulah kita memberi pujian dan kata-kata yang membangun bagi mereka yang di sekeliling kita.

Dasarnya adalah karena kita mengasihi mereka yang kita puji.

2. Pujian harus tulus dan benar. Jangan memberi pujian yang palsu. Banyak sekali yang kita bisa puji dari seseorang bila kita bisa melihat sisi lain dari seseorang.

Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak. (Ams25:11)

Kepada orang yang overweight kita bisa memuji tatanan rambutnya. Orang yang berwajah kurang cantik, kita bisa puji cara berpakainnya yang rapi. Dengan memperhatikan seseorang kita akan dengan mudah menemukan banyak hal yang kita bisa puji pada orang tersebut. Apalagi kalau seseorang melakukan sesuatu yang baik. Kita harus memuji pekerjaannya. Bila seseorang menolong kita, kita perlu berterimakasih dan memberi pujian.

Percalah, pujian kita yang tulus akan terkenang sepanjang hari dan membuat hidup seseorang berkesan dan indah.

Pujian yang tulus dan benar menurut saya serupa dengan doa berkat bagi mereka yang menerimanya. Oleh karena itu, mereka yang suka memberi pujian adalah orang yang memberkati orang di sekelilingnya. Dan itu dilakukan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun alias tanpa biaya.

Orang yang suka memuji adalah sumber berkat bagi sekelilingnya. Sumber air sejuk bagi padang gurun yang gersang. Matahari bagi dunia yang berkabut dan gelap.

Sebab itu mereka yang mampu memuji dengan baik dan benar adalah orang-orang yang berprestasi. Orang yang memiliki Pencapaian. Orang yang sudah suskes dalam suatu bidang.
Friends, jangan hidup tanpa prestasi. Banyak pencapaian dalam hidup ini. Dan kita semua bisa mencapainya. Satu persatu. Mulai dari yang mudah yaitu Sukses dalam memuji seseorang.

All blessings,
Binsar