Tampilkan postingan dengan label keinginan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keinginan. Tampilkan semua postingan

Resolusi Akhir Tahun


Nah kita sampai pada saat saat seperti ini lagi. Saat-saat dimana satu tahun akan segera berakhir dan kita akan memasuki tahun yang baru.

Kita merenung sejenak lalu kemudian melakukan flash back kebelakang untuk melihat apa yang sudah kita perbuat sepanjang tahun ini, prestasi apa yang kita buat, momen momen high and low, sukacita dan kesedihan,.... pencapaian dan kegagalan. It's ok. Ini sesuatu yang wajar kita lakukan...... Lalu sejenak kemudian kita mulai membuat rencana-rencana untuk tahun depan.

Kita buat target-target pencapaian yang kita akan kejar di tahun mendatang dan juga kita buat resolusi, komitmen, keputusan yang kita tahu kita perlu pegang dan lakukan agar target-target tadi dapat kita capai.

Tuhan Senang Dengan Resolusi Yang Kita Buat
Tuhan suka dengan resolusi. O ya? Ya. Karena setiap resolusi pasti dibuat demi perbaikan, penigkatan dan penyempurnaan karakter kita. Juga untuk disiplin kita dan semua hal-hal yang disukai Tuhan Yesus. Ya tidak?

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu...(Rom 12:2a)
maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. (2Kor3:18b)

Coba kita lihat ayat-ayat diatas. Oh Tuhan suka sekali kalau kita mau berubah !!!
Kita harus ingin berubah ... dan Tuhan sendiri juga akan mengubah kita...... supaya kita menjadi semakin baik dan menjadi semakin serupa dengan gambaran idola kita yaitu Tuhan Yesus.


Jadi kita memang harus punya resolusi setiap tahun. Bahkan akan lebih baik lagi kalau kita punya resolusi setiap hari. Sebelum kita memulai hari-hari kehidupan kita. 

Bagaimana Kalau Gagal?
Bagaimana kalau resolusi kita buat tiap awal tahun tapi juga selalu saja gagal memenuhinya ? He he akhirnya kita bosan dan pikir-pikir lebih baik tidak usah buat. Untuk apa resolusi kalau akhirnya kita sendiri yang membatalkannya..

O jangan!

Berhasil atau tidak dalam memenuhi komitmen kita, itu urusan lain. Yang penting kita punya keinginan dulu. Memiliki resolusi berarti kita menyatakan dengan iman kita bahwa kita ingin menjadi lebih baik. Tuhan pasti mendengar keinginan kita itu dan Tuhan pasti memberi kekuatan dan kasih karunia untuk melakukan keinginan kita itu.

Menurut saya, seseorang yang memiliki resolusi sebetulnya sedang menanggapi keinginan Tuhan. O ya. Saya yakin resolusi yang baik itu semua berasal dari Tuhan.

"karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya." (Fil 2:13)

Tuhanlah yang membisiki kita untuk berkeinginan, berkehendak, berkemauan, untuk mengerjakan hal-hal baik yang kita ingin kerjakan di tahun 2012 yang akan menjelang. Amin.

Susah Payah Kita Pasti Akan Menghasilkan Sesuatu
Hal kedua yang kita tidak boleh lupa. Sekalipun mungkin banyak tantangan dan halangan,... bahkan mungkin juga air mata, percayalah semua itu tidak akan sia-sia. Yang bersusah payah pasti akan menuai hasil yan baik.

"Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya" (Maz 126:5-6)


Yang terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa Tuhan Yesus akan atur sedemikian rupa agar tempat kita kerja, usaha kita, keluarga kita, kesehatan kita, orang-orang yang bersinggungan dengan kita, semuanya dengan cara Tuhan akan diatur untuk membantu kita dalam mencapai resolusi yang kita buat itu. Amin. Percayalah pasti demikian adanya.


Kita Tidak Kerja Sendiri
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Rom 8:28)


Kenapa?


Karena Bapa di Surga sendiri yang sangat ingin supaya kita menjadi serupa dengan gambaran Tuhan Yesus sang Idola kita. Amin


Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Rom 8:29)


Tahun 2012? Kenapa takut? Mari kita buat resolusi dan lakukan dengan pertolongan Tuhan. Kita pasti akan menjadi lebih baik lagi di tahun yang akan datang.


All blessings to you,
Binsar



Orang Sukses Yang Tidak Kaya




















OK ok ok sebelum anda menolak judul yang saya buat untuk artikel ini, saya perlu jelaskan didepan.  Firman Tuhan setuju dengan hidup yang diberkati secara rohani dan jasmani sebab Tuhan datang untuk memberi hidup yang berkelimpahan bukan? (Yoh 10:10)....

Abaraham, Ishak, Yakub, Yusuf, Daud, Salomo, Daniel, dan banyak lagi tokoh-tokoh Alkitab tidak diragukan lagi adalah orang-orang yang Kaya secara finansial. Tokoh-tokoh sebelum Nabi Nuh .....mungkin belum hidup dalam dunia yang kompleks sehingga mereka mungkin hidup tanpa perduli untuk mengumpulkan kekayaan. Tapi pasti mereka juga tidak hidup dalam kekurangan.....

Intinya, orang-orang benar dalam Perjanjian Lama umumnya hidup dalam berkelimpahan dan ..... jatuh miskin ketika mereka meninggalkan Tuhan.

Suatu prinsip yang sangat sederhana.... sehingga Daud pun mengatakan: Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; (Maz 37:25)

Namun kalau kita selidiki lebih lanjut, ada orang-orang benar dan sukses dalam Alkitab yang hidupnya tidak Kaya. Benar yang dimaksud artinya tentu memiliki hidup berkenan kepada Allah. Dan Sukses artinya mereka berhasil memenuhi panggilan dan tujuan hidupnya. Hidup yang memberi dampak pada dunia di sekitar mereka.

Kita bisa mulai dengan Rasul Paulus, Rasul Petrus dan rasul-rasul dalam gereja mula-mula misalnya. Tambahkan kesitu, nabi Elia, Elisa dan nabi-nabi lain yang Tuhan kirim ke bangsa Israel sepanjang jaman raja-raja.

Apakah Prinsip Hidup Berkelimpahan Tidak Manjur Dalam Hidup Mereka?
Mustahil ! Kebenaran Firman Tuhan berlaku kemarin, hari ini dan selama-lamanya bukan.... ?

Tapi persoalannya bukan disitu. Kalau kita gali lebih dalam, kita akan temui bahwa banyak orang benar yang MEMILIH untuk hidup dalam kekurangan agar dapat efektif dalam melakukan tugasnya. Lebih efektif dalam mencapai panggilannya. Efektif?

Ya karena kalau mereka hidup penuh kekayaan, mereka tidak bisa melakukan panggilannya. Coba bayangkan bila seorang misionaris pergi ke Papua pedalaman dan hidup di tenda dengan genset, satelite TV, kulkas, big LCD TV dan satu mobil Jaguar parkir di depan "tenda"nya ?

O dia akan dianggap orang aneh dan tidak akan bisa secara efektif melayani orang-orang pedalaman tersebut. Jadi apa yang mereka lakukan? Banyak dari mereka yang akhirnya menyesuaikan gaya hidupnya, bahkan cara berpakaiannya dan cara makannya agar mereka bisa efektif melayani di daerah misi.

Rasul Paulus mungkin merupakan contoh yang paling baik untuk hal ini. Dia mengatakan:
Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela. Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, .... sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu. (2Kor 6:3, 4, 10)

Memilih Untuk Tidak Menjadi Kaya Raya  
Rasul Paulus adalah orang yang pintar dan berpendidikan tinggi. Dia akan sangat gampang untuk hidup kaya bila dia mengambil suatu profesi businessman secara full time. Namun dia memilih untuk hidup dengan menjual tenda sambilan karena dia memiliki suatu gol dalam hidupnya. Artinya bila dia harus hidup tidak kaya untuk berhasil maka itulah yang menjadi plihannya. Pilihan untuk hidup tidak Kaya secara finansial.

Apakah boleh ?

Tentu saja boleh.  Hidup ini jauh lebih luas dari sekedar menjadi kaya. Dalam hidup yang singkat ini banyak pencapaian-pencapaian yang bisa dikejar dari sekedar menjadi kaya.

Memang tidak selalu harus memilih salah satu. Tapi banyak dari kita akan sampai pada satu titik dimana kita harus memilih antara hidup kaya atau mencapai cita-cita panggilan kita. Paling tidak hidup sederhana untuk sementara waktu agar bisa fokus pada pencapaian dalam bentuk yang lain.

Hidup Berkorban Untuk Suatu Cita-cita
Rasul Paulus mengatakan dengan begitu jelas di Surat Filipi:
Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, ...dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Fil 3:8, 14)
 
Apakah kita hidup hanya sekedar untuk memperoleh kekayaan? Untuk sukses secara material semata-mata?

Bagaimana kalau pencapaian material menjadi penghalang atau faktor penunda datangnya Sukses yang terutama: Cita-cita kita? Panggilan Kita?

All blessings,
Binsar

Tidak Mau Miskin

Ams 19:6-7 Banyak orang yang mengambil hati orang dermawan, setiap orang bersahabat dengan si pemberi. Orang miskin dibenci oleh semua saudaranya, apalagi sahabat-sahabatnya, mereka menjauhi dia. Ia mengejar mereka, memanggil mereka tetapi mereka tidak ada lagi.

Hidup ini memang keras dan kejam. Bila kita sudah hidup sekian lama kita akan menyadari kenyataan seperti yang ditulis di kitab Amsal diatas. Apabila kita miskin, tidak ada yang suka dekat dekat dengan kita. Mungkin ada beberapa teman yang tetap setia tapi kitab Amsal menyatakan bahkan seorang sahabat dan saudarapun bisa menjauh dari kita apabila kita jatuh dalam kemiskinan.

Saudara-saudara, kita bisa saja menjadi pahit hati ketika dalam perjalanan hidup kita, kita mengalami hal itu. Tapi menjadi kecewa dan sakit hati tidaklah menyelesaikan persoalan. Menjadi pahit hati hanya akan mengundang sakit penyakit kedalam tubuh kita. Bahkan akhirnya membawa seseorang menjadi kecewa kepada Tuhannya juga.


Benci Pada Kemiskinan
Kebenaran diatas sebaliknya justru seharusnya membuat kita sadar dan membenci kemiskinan itu sendiri. Sedemikian bencinya kita kepada kemiskinan sehingga kita akan memicu diri kita kuat-kuat agar kemiskinan tidak menimpa dalam hidup kita.

Ams 6:9-11 Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" -- maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Kita akan memicu diri agar tidak malas dalam bekerja, hidup boros dan hal-hal lain yang bisa membuat kita jatuh kedalam kemiskinan.
Kita membenci kemiskinan sedemikian rupa dan berusaha keras agar kita tidak pernah hidup berkekurangan.


Hidup Benar dan Bekerja Keras sebagai Resep
Tuhan menyatakan bahwa setiap orang yang hidup benar dan bekerja keras tidak perlu takut untuk jatuh kepada kemiskinan. Orang yang hidup dalam kebenaran tidak akan mengalami kemiskinan dalam silsilah keluarganya. Sekalipun mungkin saja pernah ada kutuk kemiskinan pada generasi sebelumnya, karya Kristus di kayu salib melepaskan kita dan membawa hidup kita pada kehidupan yang penuh dengan penyertaan Tuhan.

Seperti yang pe-mazmur katakan:

Maz 37:25 Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;

Oh puji Tuhan. Pada Yesus ada pengharapan. Tidak perlu takut untuk hidup benar sesuai dengan Firman Tuhan. Tuhan Yesus sudah menjamin bahwa hidup kita maupun keturunan kita akan senantiasa dalam kecukupan bahkan kelimpahan yang disalurkan pada berbagai perbuatan baik.

All blessings,
Binsar