Tampilkan postingan dengan label dunia kantor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dunia kantor. Tampilkan semua postingan

Menjadi Sahabat Boss

Orang yang mencintai kesucian hati dan yang manis bicaranya menjadi sahabat raja. Ams 22:11

Saudara saudari, kita semua pasti setuju bahwa akan lebih mudah untuk sukses di suatu kerajaan apabila seseorang menjadi sahabat dari raja di kerajaan tersebut. Akan lebih mudah untuk sukses di suatu perusahaan apabila seseorang menjadi sahabat sang Presiden Direktur di perusahaan tersebut.

Sebaliknya pasti hidup ini akan lebih susah apabila Direktur dan atasan di tempat kita bekerja adalah musuh bebuyutan kita. Bukan saja karir kita akan “stuck”, juga hari hari kita akan seperti neraka rasanya.


Sahabat dari Sang Bos
Jadi tidaklah salah kalau kita memiliki hubungan yang baik dengan atasan-atasan kita. Apalagi menjadi seorang sahabat bagi mereka. Menjadi seseorang yang bisa dipercaya. Menjadi seseorang yang diandalkan bagi atasan kita. Seseorang yang mengerti cara berpikir, cara bekerja dan apa yang menjadi keinginan mereka.

Banyak orang yang berpikir bahwa menjadi anak Tuhan haruslah 100% bergantung pada Tuhan dan sama sekali tidak boleh dekat dan akrab dengan pimpinan tempat mereka bekerja. Saya kira itu suatu keyakinan yang aneh dan menyimpang.

Memang kita tidak perlu menjadi penjilat dan “yes man” bagi bos kita. Namun menjadi orang yang menyenangkan bagi atasan kita adalah sesuatu yang baik.

Dekat dengan Bos adalah Hal Yang Rohani
Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kol 3:22-23

Bukankah Rasul Paulus meminta kita untuk bersikap kepada atasan seperti sikap kita kepada Tuhan ? Saya yakin tidak seorangpun anak Tuhan yang cemberut dan bersikap melawan kepada Atasan segala atasan yaitu Tuhan Yesus.

Dengan demikian adalah suatu hal baik juga untuk bersikap baik dan berbicara manis di hadapan atasan kita. Karena kalau kita berdiri dihadapan Tuhan Yesus kita juga akan bersikap demikian. Dan karena kita melakukanya untuk Kristus maka kita pun tidak akan kesulitan untuk berbicara manis dihadapan atasan kita.

Tentu saja kalau sang bawahan dan atasan berlainan jenis, kita perlu belajar bagaimana berbicara manis tanpa menimbulkan tanggapan yang keliru terhadap sikap kita tersebut. Berbicara manis tidak berarti menjadi genit dan seduktif bukan?

Kitab Amsal mengatakan bahwa kita berbica manis namun juga didasari dengan hati.yang suci. Bukan dengan motivasi menjilat atau menggoda. Namun sungguh sungguh dalam kemurnian dan kesucian hati.

Bersahabat yang Didasari Ketulusan
Seorang atasan akan menjadi sebel dengan penjilat penjilat yang hatinya penuh dengan intrik intrik. Dan kalau mereka saat ini bisa mencapai posisi yang tinggi tentu mereka sudah berpengalaman dan mengerti cara membaca motivasi bawahan bawahan mereka.

Sebaliknya kesucian dan kemurnian hati juga akan mudah terdeteksi oleh atasan atasan kita. Dan believe it or not, dalam hidup ini sangatlah sulit untuk menemukan bawahan yang murni hatinya dan bersikap dan berbicara manis dan koperatif dengan atasannya.

Saya yakin kalau kita bisa berteman dengan atasan yang biasanya sulit untuk mempercayai orang lain, maka kita pasti bisa juga berteman dengan siapa saja.

Dan semua orang tahu. Orang yang pandai bergaul dan bersahabat pasti berhasil dalam hidupnya. Ini adalah salah satu kunci sukses.

Bagaimana dengan anda dan saya? Apakah anda memiliki hubungan yang baik dengan pimpinan anda? Apakah mereka senang dibantu oleh anda? Apakah mereka mempercayai anda?

All blessings,
Binsar

How to treat your staff.

























Belajar dari Daud (3): How to treat your staff.

2Sam23: 14 Pada waktu itu Daud ada di dalam kubu gunung dan pasukan pendudukan orang Filistin pada waktu itu ada di Betlehem. 15 Lalu timbullah keinginan pada Daud, dan ia berkata: "Sekiranya ada orang yang memberi aku minum air dari perigi Betlehem yang ada dekat pintu gerbang!" 16 Lalu ketiga pahlawan itu menerobos perkemahan orang Filistin, mereka menimba air dari perigi Betlehem yang ada dekat pintu gerbang, mengangkatnya dan membawanya kepada Daud. Tetapi Daud tidak mau meminumnya, melainkan mempersembahkannya sebagai korban curahan kepada TUHAN, katanya: "Jauhlah dari padaku, ya TUHAN, untuk berbuat demikian! Bukankah ini darah orang-orang yang telah pergi dengan mempertaruhkan nyawanya?" Dan tidak mau ia meminumnya. Itulah yang dilakukan ketiga pahlawan itu.

Daud adalah pemimpin yang hebat. Semua staffnya akan memberikan hidupnya hanya untuk menyenangkan hati Daud. Memang tidak mudah untuk mencapai level kepemimpinan seperti ini. Namun lebih sulit lagi untuk mempertahankan tingkat loyalitas ini. Saya yakin dibutuhkan kebersamaan yang kuat baik dalam masa sulit maupun dalam momen momen kemenangan. Daud adalah pemimpin yang seperti itu. Dia mengerti arti kebersamaan dan bagaimana menyelami perasaan anak buahnya. Sebaliknya ia pun memberi kesempatan agar dirinyapun dikenal oleh bawahan-bawahannya.

Daud juga mengerti bagaimana membangun trust dan loyalitas itu. Kita bisa membaca dari cerita di atas bagaimana loyalitas anakbuahnya semakin diperkuat melalui peristiwa seember air dari perigi Betlehem.

Loyalitas Bukan Untuk Kepentingan Pribadi
Memang mereka sudah loyal sepenuhnya pada Daud. Namun Daud tidak mengeksplotasi loyalitas itu untuk kepentingan pribadi. Sekali lagi dia menunjukkan kepada seluruh pengikutnya bahwa kesetiaan mereka tidak akan sekali kali dia abuse. Ingat apa yang dikatakan Daud?

Dia berkata "Jauhlah dari padaku, ya TUHAN, untuk berbuat demikian! Bukankah ini darah orang-orang yang telah pergi dengan mempertaruhkan nyawanya?"

Ah saya yakin anak buahnya semakin hancur hatinya (luluh dan takluk) karena diperlakukan dengan penuh penghargaan oleh pemimpin yang mereka kagumi itu. Mereka sekarang mengerti bahwa setiap pengorbanan yang akan mereka lakukan bagi Daud tidak akan terbuang percuma. Daud akan menghargai setiap extra effort itu dan menganggap itu sebagai suatu pengorbanan yang suci.

Apakah kita atasan yang dijauhi oleh anak buah kita ? Apakah kita sudah menguasai seni kepemimpinan Daud?

All blessings,
Binsar

Maximizing your Resource

































Belajar dari Daud (1): Maximizing your Resource

Lalu Daud pergi dari sana dan melarikan diri ke gua Adulam. Ketika saudara-saudaranya dan seluruh keluarganya mendengar hal itu, pergilah mereka ke sana mendapatkan dia. Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka. Bersama-sama dengan dia ada kira-kira empat ratus orang. (1Sam22:1-2) Kemudian pergilah Daud dengan orang-orangnya ke Kehila; ia berperang melawan orang Filistin itu, dihalaunya ternak mereka dan ditimbulkannya kekalahan besar di antara mereka. Demikianlah Daud menyelamatkan penduduk Kehila. (2Sam23:5)  

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat inspirasi dari Tuhan untuk mempelajari management dari Alkitab. Memang banyak sekali buku-buku dan seminar-seminar yang diberikan untuk mempelajari management. Tapi saya menemui bahwa Alkitab penuh dengan mutiara-mutiara yang tersembunyi mengenai topik ini. Saya memulai dengan belajar dari Daud, salah seoarang yang sangat sukses dalam sejarah. Anda tentu tidak lupa cerita from rags to riches dari Daud. Seorang muda yang berangkat dari profesi penggembala domba menjadi pendiri suatu dinasti kerajaan yang berlanjut sampai pada kekekalan. Pasti ada banyak yang bisa kita pelajari dari pribadi yang berhasil ini.

Satu pelajaran pertama dari ayat yang kita baca diatas: Maximizing your Resource dan Do not Complain for what you got.

Bersikap Positif Di Pekerjaan Yang Tidak Menyenangkan
Daud bisa saja menggerutu dan complain setiap hari atas resources yang diberikan Tuhan untuk menggenapi janjiNya: Menjadi Raja atas Israel. Bukannya mendapatkan pengangkatan yang mudah, Daud mengalami masa-masa dia berada dalam pembuangan. Disana dia bertemu dan bergabung dengan orang-orang yang terbuang dari masyarakat. Bagaimana mungkin dengan orang-orang seperti itu membentuk suatu pasukan dan kerajaan yang kuat? Dengan bawahan dan staf yang isinya orang-orang yang rata-rata gagal tidak banyak yang bisa dia lakukan dan harapkan.

Tapi lihatlah. Prinsip Daud ialah memaksimalkan resource yang apa adanya menjadi senjata mencapai sukses. Daud tidak bergantung kepada peralatan dan kemampuan yang terbatas dari stafnya. Sebaliknya dia mampu mengangkat mereka ke level yang tinggi dan mem-boost moril dan kemampuan yang terbatas itu itu menjadi mesin yang menghasilkan sukses demi sukses.

Orang Yang Bersemangat Menularkan Semangat ke Sekelilingnya
Tentu saja orang yang memiliki “semangat sukses” akan mengangkat orang yang distress menjadi orang-orang yang bergairah dan memiliki fighting spirit dan work ethics yang luar biasa. Tapi sebaliknya orang yang mudah mengeluh, tidak akan pernah sukses sekalipun diberi resources yang lengkap sekalipun.

Apakah anda saat ini dalam jabatan yang tidak menyenangkan. Lingkungan kerja yang jelek dan tidak punya potensi untuk maju? Jangan komplain dulu. Tuhan sedang melatih kita untuk menjadi pengaruh yang positif di tempat itu. Tuhan mau kita menjadi pemimpin yang menjadi contoh dan membuat orang lain berubah karena kehadiran kita. Dan staff yang tidak kompeten oleh pengaruh yang positif bisa menghasilkan suatu tim yang kuat dan kompak.

Apa yang kita bisa pelajari dari Daud?
Maximize your Resource dan Do not Complain for what you got.

All blessings,
Binsar

PHK? Kenapa Takut?

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, (Mat 6:26, 25a)
---------------------------
Siapa yang tidak gentar dengar kata PHK ? Khususnya di saat Resesi Global seperti ini, tidak ada orang yang tahu persis apakah imbasnya akan sampai di tempat pekerjaannya. Yang dulu menganggap aman ternyata mulai merasakan pengaruhnya.

Daya beli begitu lemah sampai Obral besar-besaran dilakukan dimana-mana. Tapi itu hanya bisa membantu mengosongkan persediaan gudang yang menumpuk selama ini.

Bagaimana kalau anda pada saat-saat seperti ini mengalami PHK ?
Mereka yang mengalami PHK umumnya merasakan shock. Terkejut sampai tidak tahu berbuat apa. Seperti dalam mimpi saja. Namun setelah sadar dan mengerti adanya kenyataan yang mengejutkan ini, reaksi seseorang bisa macam-macam.

Bisa kecewa, stress, merasa benci pada bos dan perusahaan, bahkan bisa kecewa kepada Tuhan juga. "Mengapa terjadi pada saya?" "Mengapa Tuhan tidak mencegah hal ini terjadi?" dan banyak lagi pertanyaan yang tidak terjawabkan menumpuk di dalam hati.

Lalu setelah itu disambung lagi dengan rasa gagal, malu, rendah diri dan segala macam pikiran negatif yang membuat kita tidak berani bertemu dengan orang lain. Akibatnya bisa berakibat seseorang menjadi apatis, tidak perdulian dan mogok untuk mencoba hal yang baru.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, PHK bukanlah akhir dari segalanya. Dan jangan lupa. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, Tuhan Yesus tetap duduk di tahtaNya (Maz 2:4). Dia tetap memegang kendali atas dunia ini. Dia tetap Sang Pemenang yang telah melindas tengkuk Iblis dengan tumitNya yang berkuasa. Tuhan Yesus tidak berubah di tengah PHK yang anda alami.

Melihat Kehidupan dengan Firman Allah

Dan bila kita sudah bisa menjadi tenang dan bersedia melihat kepada Firman Tuhan maka kita akan mengerti bahwa segala sesuatu Tuhan ijinkan terjadi untuk mendatangkan kebaikan pada kita pada akhirnya (Ul 8:16).

Lagi pula sangat tidak beralasan untuk merasa kuatir secara berlebihan. Sekalipun anda memiliki tanggungan istri dan anak-anak, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan sedetikpun.

Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; (Maz 37:25)

Perkataan diatas diucapkan oleh Daud yang beberapa kali mengalami "PHK" yang sangat parah. Pertama dia di-PHK oleh mertuanya sendiri. Bukan saja dipecat dari posisi Panglima Perang, dia bahkan juga diburu untuk dibunuh tanpa alasan. Bukan hanya itu. Lebih menyakitkan lagi ketika Absalom, anak kandungnya sendiri melakukan kudeta terhadapnya. Sehingga sekali lagi Daud di-PHK. Kali ini dari jabatan Raja dan harus dipermalukan didepan umum dan hidup dalam pengungsian. Daud kehilangan segala fasilitas kerajaan yang dia biasa nikmati dan harus mulai menyesuaikan hidup di dalam tenda dan fasilitas minim selama dalam pelarian.

Tapi dia tidak kuatir dan kecewa kepada Tuhan.
Hatinya lebih melekat kepada Tuhan dan waktu-waktu susahnya justru menghasilkan banyak Mazmur yang begitu menyentuh dan menghibur banyak orang sampai saat ini.

Yusuf juga mengalami PHK yang sangat pahit ketika dia difitnah oleh istri Potifar. Dia bekerja dengan sangat baik sebagai GM di rumah tuannya. Ibarat bekerja di suatu Perusahaan, Yusuf telah membuat usaha Potifar menjadi rapi teratur dan berkembang maju. Tapi perlakuan yang diterimanya tidak mengingat sedikitpun semua kebaikan yang telah diperbuatnya. Dia dipecat, difitnah dan dibuang kedalam penjara.

Tapi kita semua tahu kelanjutan cerita Yusuf bukan? Penjara adalah jalan yang Tuhan sudah atur agar dia bisa menjadi Penguasa atas Mesir. Oh ya. Untuk mencapai Sukses yang kecil hanya perlu pengorbanan yang kecil. Tapi untuk Sukses yang besar perlu melalui proses dan pengorbanan yang besar.

PHK juga bisa dipakai Tuhan untuk kita beralih profesi. Kalau Yusuf tidak mengalami PHK, mungkin akan selamanya dia "stuck" menjadi GM di rumah Potifar. PHK membawa dia melalui perjalanan yang tidak biasa namun berakhir di Tahta.

Bangkit dan Melangkah ke Depan
Bagian dari anak-anak Tuhan adalah terus membuka diri untuk kemungkinan-kemungkinan yang lain. Alternatif pekerjaan yang berbeda. Gunakan waktu untuk membuat CV dan gunakan networking yang ada untuk membawa kita pada pekerjaan baru yang Tuhan sudah sediakan.

Yusuf tidak menjadi depresi dan apatis di dalam penjara. Dia melakukan networking dengan sang Juru Minum yang dihukum Firaun. Dan akhirnya melalui sang Juru Minum dia mendapat rekomendasi untuk menghadap dan menafsirkan mimpi Firaun.

Kita tidak mengandalkan manusia untuk masa depan kita selanjutnya. Tapi sangatlah bodoh dan sombong apabila kita tidak mau menerima saran dan referensi dari teman-teman, kenalan maupun saudara-saudara yang mengasihi dan perduli atas hidup kita.

Menyesuaikan Hidup dalam Masa Transisi
Yusuf menyesuaikan gaya hidupnya karena dipaksa oleh kesulitan yang disebabkan oleh Potifar. Kita mungkin harus juga menyesuaikan gaya hidup, pengeluaran dan belanja dalam situasi-situasi seperti ini. Tapi hey, sukacita dan kebahagian tidak diukur oleh banyaknya belanja bukan? Itu sebabnya mendekat kepada community komsel gereja dan acara-acara keluarga akan lebih berguna. Tidak banyak pemborosan tapi kualitas kebahagian yang dihasilkan dengan kebersamaan sangat tak ternilai di saat seperti ini.

Perjalanan masih panjang tapi percaya akan tuntunan Tuhan maka kita akan melihat tangan Tuhan Yesus yang membawa kita semua naik lebih tinggi lagi dalam kemuliaanNya.

TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. (Maz 37:23, 24)

Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar (Maz 112:4a)

Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. (Ams 4:18)

All blessings,
Binsar

Office Politics

Pada kesempatan ini saya ingin membahas tentang office politics. Politik di tempat kerja. Saya tidak tahu apa saudara saudari menyadarinya, tapi saya yakin di manapun kita bekerja sedikit banyak kita mengalami apa yang disebut office politics. Bahkan saya mellihat di pelayanan pun ada terjadi office politics. Paulus menulis di kitab Korintus tentang jemaat yang memihak-mihak anatara Paulus, Apolos dan Kefas.
Yang saya maksud adalah situasi dimana seseorang memihak satu pemimpin di dalam organisasi tersebut dan memanfaatkan hubungan tersebut untuk kepentingan karirnya. Sebaliknya seorang pemimpin memanfaatkan bawahannya dan rekan kerjanya untuk mengatasi rivalnya dan membela kepentingan kepentingannya sendiri dan untuk naik lebih cepat dalam tangga karirnya.

Keadaaan Bisa Memaksa Kita Terlibat Office Politics
Sebagai anak Tuhan kita akan masuk dalam situasi situasi tersebut. Sekalipun ketika kita tidak ingin untuk memihak pada salah satu kekuatan yang ada dalam organisasi tersebut. Dan bilamana kita tidak berhikmat, kita bisa terjebak karena telah memihak atau terpaksa berada dalam salah satu pihak. Dan akhirnya tersisihkan karena pihak dimana kita berada bukanlah pihak yang menang dalam persaingan di kantor tersebut.

Beberapa waktu yang lalu pembacaan Alkitab saya sampai di kitab Raja Raja dan saya melihat situasi office politics di kerajaan Daud…

Raja Daud telah tua dan lanjut umurnya, ……..Lalu Adonia, anak Hagit, meninggikan diri dengan berkata: "Aku ini mau menjadi raja." Ia melengkapi dirinya dengan kereta-kereta dan orang-orang berkuda serta lima puluh orang yang berlari di depannya. Selama hidup Adonia ayahnya belum pernah menegor dia dengan ucapan: "Mengapa engkau berbuat begitu?" Iapun sangat elok perawakannya dan dia adalah anak pertama sesudah Absalom. Maka berundinglah ia dengan Yoab, anak Zeruya dan dengan imam Abyatar dan mereka menjadi pengikut dan pembantu Adonia. Tetapi imam Zadok dan Benaya bin Yoyada dan nabi Natan dan Simei dan Rei dan para pahlawan Daud tidak memihak kepada Adonia. (1Raj 1:1a,5-8)

Pilihan Yang Salah Berpengaruh Kepada Karir Selanjutnya
Imam Abyatar dan panglima Yoab yang luar biasa ini salah berpihak ketika ada persaingan antara Adonai dan Salomo. Dan pilihan mereka berakibat fatal untuk karir mereka. Bahkan Adonai dan Yoab berakhir dengan kematian.

Saudara- saudari, salah berpihak di dalam organisasi akan berakibat sangat fatal. Banyak yng mengalami “stuck” atau kemacetan dalam karirnya karena salah berpihak. Namun sebaliknya mereka yang berpihak pada pemimpin yang tepat akan mengalami kanaikan karir yang pesat. Imam Zadok dan Benaya mengalami hal tersebut.

Kisah kisah di Perjanjian Lama banyak sekali berisi pelajaran pelajaran yang berguna untuk karir kita. Di kitab Samuel, ketika Absalom memberontak kepada Raja Daud, ada dua penasehat yang hebat di Israel pada Jaman itu yaitu Ahitofel dan Husai. Dalam situasi yang tidak menentu seperti itu sangat sulit untuk memilih kepada pemimpin mana mereka harus berpihak. Absalom kelihatannya dalam posisi karir yang baik sedangkan Daud harus lengser dari istana untuk sementara. Bagi Husai, dia harus menentukan kepada siapa dia harus setia dan berpihak. Husai memilih Daud dan itu telah membawa dia survive dalam karirnya. Bahkan di saat ketika Absalom masih memerintah sebagai raja.

Saudara-saudari, kepaada siapa anda menemukan mentor atau pembimbing karir di tempat kerja anda? Jangan salah memilih.

Pilihan Berdasarkan Hati Nurani dan Kebenaran Tidak Akan Pernah Salah
Abyatar dan Yoab adalah professional yang baik namun mereka memilih pihak yang salah dan akibatnya mereka gagal. Zadok dan Benaya sebaliknya telah mengambil pilihan yang tepat dan mereka menjadi berhasil.

Lalu Salomo memecat Abyatar dari jabatannya sebagai imam TUHAN….Raja mengangkat Benaya bin Yoyada menggantikan Yoab menjadi kepala tentara; dan raja mengangkat imam Zadok menggantikan Abyatar. (1Raj 2:27a, 35)

Marilah kita meminta kepada Tuhan Yesus agar kita dijauhkan dari pilihan yang salah dalam karir kita dan senantiasa dituntun pada pilihan pilihan yang benar.

All blessings to you,
Binsar

Menghindari Affair

Hai anakku, mengapa engkau berahi akan perempuan jalang, dan mendekap dada perempuan asing? Karena bibir perempuan jalang menitikkan tetesan madu dan langit-langit mulutnya lebih licin dari pada minyak, tetapi kemudian ia pahit seperti empedu, dan tajam seperti pedang bermata dua. (Ams 5:20, 3, 4)

Saudara-saudari, banyak terjadi seseorang hancur karirnya karena affair di tempat dia bekerja. Kita sering mendengar seorang profesional yang memiliki masa depan yang cerah. Yang begitu berbakat dan memiliki kemampuan interpersonal yang luar biasa. Namun tiba-tiba jatuh dalam skandal dan membuat rumah tangganya berantakan dan kemudian tentu saja juga karirnya.

Affair Akan Merembet ke Kejatuhan yang Lain
Affair di kantor pasti akan berpengaruh pada aspek aspek lainnya. Seseorang yang telah menikah tidak demikian saja jatuh dalam suatu affair. Orang tersebut harus melalui perang batin yang berulang-ulang selama periode tertentu sebelum akhirnya melindas hati nuraninya. Dan memutuskan melakukan affair yang pertama.

Apabila seseorang telah berani memutuskan untuk mengabaikan hati nuraninya dalam hal kesetiaan pernikahan, tidak ada yang bisa menjamin bahwa orang tersebut tidak akan mengingkari hati nuraninya dalam hal yang lain pula. Itu sebabnya seseorang yang jatuh dalam hal seksual, biasanya juga terlibat dalam korupsi, kolusi dan hal hal kriminal lainnya.

Kejatuhan dalam perselingkuhan merupakan pintu untuk dosa dosa lainnya.

Kecewa adalah Akar yang Berbahaya
Saudara-saudari, kita perlu berhati-hati terhadap godaaan-godaan seperti itu. Karena banyak sekali orang yang kecewa dalam pernikahannya lalu mencari pelampiasannya di tempat mereka bekerja. Mereka, sengaja atau tidak sengaja, berusaha mencari korban di sekitar mereka bekerja.

Mungkin mula-mula hanya sekedar ngobrol. Kemudian diteruskan dengan curhat, mencurahkan isi hati. Lama kelamaan simpati tersebut berlanjut dengan daya tarik fisik. Lalu akhirnya berlanjut kepada perselingkuhan.

Yusuf mengalami proses godaan seperti itu juga ketika istri Potifar mengincar dirinya. Namun dia menang dari ujian tersebut dan akhirnya dianggap layak oleh Tuhan untuk ditinggikan sebagai penguasa atas Mesir.

Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. (2Tim 2:21)

Kesucian Membawa Sukses yang Besar
Saudara-saudari, Tuhan Yesus punya rencana yang sangat baik untuk karir atau bisnis yang kita tekuni. Jangan biarkan godaan-godaaan di sekitar kita merampok kita dari seluruh berkat yang Tuhan rencanakan bagi hidup kita.

Kasihi pasangan anda dan jadikan cinta anda menjadi fondasi yang kuat bagi karir dan bisnis anda.

Minumlah air dari kulahmu sendiri, minumlah air dari sumurmu yang membual. Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu: … dan engkau senantiasa berahi karena cintanya. (Ams 5:15,18,19b)

All blessings,
Binsar

Skill Interaksi Sosial

Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah dari pada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar. (Ams 21:9)

Saudara saudari, ayat diatas memang sering digunakan didalam konseling pasutri. Namun hikmat yang terkandung lebih luas dari pada itu. Esensi yang perlu diketahui adalah bahwa seseorang yang suka bertengkar akan dijauhi oleh teman temannya, rekan kerjanya, rekan bisnisnya bahkan orang yang terdekat sekalipun yaitu pasangan hidupnya. Ini berlaku untuk kaum pria maupun wanita.

Orang yang suka bertengkar dijauhi temannya
Hidup ini sudah terlalu rumit untuk ditambah dipusingkan dengan orang orang yang kerjanya ber-argumentasi, bertengkar, cerewet dan sebentar sebentar complain.
Saudara saudari, sepintar pintarnya seseorang dia membutuhkan orang lain untuk bisa berhasil dalam hidupnya. Dia membutuhkan mentoring dari atasan, kerjasama dari rekan kerjanya dan juga respon yang baik dari para customernya untuk bisa sukses.

Reputasi seorang yang suka bertengkar dan berselisih paham akan terdengar jauh dan mempengaruhi keputusan orang lain yang bisa mendatangkan akibat yang tidak menguntungkannya.

Kerjasama vs Pertengkaran
Saya mengenal seseorang yang didekati oleh dua pihak untuk melakukan suatu bisnis yang menarik. Sebetulnya tawaran pihak yang pertama kelihatannya lebih menarik dari tawaran dari pihak kedua. Namun karena sering mendengar konflik yang terjadi antara dia dengan rekan rekan bisnisnya, orang menjadi kuatir akan menghadapi masalahnya yang sama dengan pihak pertama tersebut. Dan akhirnya pihak kedualah yang dipilih untuk menjadi rekan bisnis.

Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak. (Ams 20:3)

Membangun Image Diri
Kitab Amsal menghendaki kita untuk menjadi pintar dan menguasai amarah yang bisa saja timbul dalam interaksi dalam pekerjaan dan bisnis. Kita punya pilihan untuk menjadi terhormat dan membangun reputasi tersebut atau menjadi bodoh dan menciptakan image yang akan merugikan kita sendiri.

Saya percaya kita semua memilih untuk menjadi pintar dan belajar untuk menguasai diri kita. Tentu saja hanya dengan pertolongan Tuhan Yesus kita yang baik.

All blessings to you throughout the week,
Binsar

Faktor 600 jam


Maz 55:7 ..."Sekiranya aku diberi sayap seperti merpati, aku akan terbang dan mencari tempat yang tenang,

Hari ini saya membaca artikel mengenai bagaimana orang-orang di kota besar harus menghabiskan waktunya di perjalanan antara rumah dan kantor (commuting). Di New York dan kota satelit sekitarnya rata-rata waktu yang dihabiskan untuk commuting adalah 30 menit sehari. Dihitung-hitung mereka menghabiskan waktu lebih dari 100 jam pertahun dan mereka pusing karena ini lebih dari jumlah rata-rata waktu liburan warga Amerika dalam satu tahun.

Mereka belum tahu kalau di Jakarta kita rata-rata menghabiskan waktu dua jam satu hari untuk pergi pulang dari kantor :-)

Saya coba hitung dua jam perhari kali 25 hari kerja dalam sebulan berarti 50 jam perbulan atau 600 jam dalam setahun. 
Kalau kita tidur 6 jam sehari maka kita terbangun selama 18 jam sehari. Maka 600 jam berarti 33 hari penuh dalam setahun yang dipakai untuk commuting. Dalam satu tahun, lebih dari sebulan hidup kita habis diperjalanan antara kantor dan rumah. Minta ampun.

Apakah kita akan menghabiskan waktu tersebut dengan percuma? Kalau anda naik mobil pribadi disertai sopir tentu anda bisa melakukan banyak hal sepanjang perjalanan. Namun apabila anda harus menyetir sendiri atau naik kendaraan umum apakah 33 hari itu akan dipakai untuk mempelototi kemacetan atau sesama penumpang yang bergantungan didalam kendaraan umum ?

Coba bayangkan kehidupan yang tiap hari dimulai dan diakhiri dengan kemacetan, desak-desakan, bau keringat ditambah perasaan was-was akan bahaya copet dan penjahat di jalan. Apakah kehidupan seperti itu yang harus kita lalui sepanjang hidup ini? Capek deh.

Hidup seperti itu pasti gampang depresi. Jadi mana mungkin kualitas kerja bisa maksimal bila pekerjaan dimulai dengan situasi hati dan pikiran seperti itu.

Memanfaatkan Waktu Yang Mestinya Terbuang
Sebaliknya, waktu dua jam tersebut bisa kita ubah menjadi waktu-waktu yang sangat bermanfaat apabila kita mengerti caranya. Salah satu cara yang dipakai anak-anak Tuhan adalah dengan mendengarkan musik pujian dari player-mp3. Lagu-lagu yang memberi inspirasi akan menyegarkan kita sekalipun berada dalam kemacetan atau kepadatan kendaraan umum. Dari pada membiarkan stress menguasai kita, kita menggunaakn musik rohani untuk menenangkan hati kita sehingga kita siap untuk bekerja di pagi hari atau siap berkomunikasi dengan keluarga kita sepulang kerja.

Yang kedua. Saat ini sudah banyak bahan kotbah hamba-hamba Tuhan yang dijual dalam format CD. Kita bisa mengkonversi ke bentuk mp3 dan mendengarkannya dari ipod atau player-player merk lain yang kini harganya sangat terjangkau. Banyak kotbah-kotbah yang sangat baik dan bila kita dengarkan berulang-ulang akan membuat roh kita kuat. Roh yang kuat menghasilkan prestasi yang maksimal.

Berdoa dalam Kemacaetan ?
Kita juga bisa memakai waktu tersebut untuk berdoa. Ya. Banyak anak-anak Tuhan yang memakai waktu di jalan untuk berdoa syafaat bagi gerejanya, pastornya, keluarganya dan juga pekerjaan dan pelayanannya sendiri. Tentu tidak perlu harus keras-keras. Cukup berdoa dengan perlahan atau di dalam roh. Tapi kuasanya pasti tidak sedikitpun berkurang. Doa yang berkuasa pasti impactnya akan luar biasa juga bagi pekerjaan kita.

Bila 600 jam dalam setahun kita pakai untuk bengong dan melamun maka hidup kita pasti cepat depresi. Sebaliknya 600 jam yang diisi dengan doa dan Firman Tuhan akan menghasilkan hidup yang luar biasa dahsyatnya.

Anda mau mencoba?

All blessings,
Binsar

Jangan Melawan Atasan

Hai anakku, takutilah TUHAN dan raja; jangan melawan terhadap kedua-duanya. Karena dengan tiba-tiba mereka menimbulkan bencana, dan siapa mengetahui kehancuran yang didatangkan mereka? Ams 24:21-22

Kiat Sukses kali ini cukup jelas dan masuk akal. Namun betapa banyak orang gagal dalam karirnya karena tidak mengerti prinsip ini. Ada juga yang mengerti namun ketika ada dalam situasi yang emosional dan penuh tekanan mereka tidak tahan dan melawan kepemimpinan atasan mereka dan terjadilah konflik di tempat kerja.

Kita harus menyadari bahwa tidak akan pernah ada atasan yang sempurna di manapun kita bekerja. Bahkan di gereja dan pelayananpun kita tidak akan pernah menemui pemimpin yang sempurna. Tapi puji Tuhan, kita memiliki pemimpin yang sempurna di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pemimpin dari segala pemimpin. Haleluya.

Boss Tidak Melupakan Pemberontakan
Kalau kita tidak suka kepada pemimpin kita, tentu saja kita punya pilihan untuk pindah kerja asalkan semuanya dilakukan dalam tuntunan Tuhan. Namun jangan sekali-kali kita melawan atasan kita terutama dalam soal pekerjaan. Karena tidak semua orang akan mengampuni. Dan tidak semua orang bisa melupakan kesalahan orang lain terhadapnya. Suatu konflik sering kali tertanam dalam memori sang atasan dan sampai jauh kedepan dia akan memperhitungkan pengalaman tersebut pada saat dia akan mengambil suatu keputusan dan kebijaksanaan. Khususnya yang menyangkut diri kita.

Tentu saja kita tidak mesti setuju dengan apa yang atasan kita putuskan dalam segala situasi. Namun tentu kita tidak perlu langsung memberontak dan melampiaskan emosi kita dihadapannya. Pasti ada cara lain yang didasari kasih dan panjang sabar dari Roh Kudus.

Jadikan Tuhan Pembela Kita 
Dan ingat. Kita tidak sendirian di tempat kita bekerja. Mata Tuhan mengamati dan membela kita dari segala ketidak-adilan. Firman Tuhan katakan bahwa hati seorang pemimpin itu ada dalam genggaman tangan Tuhan Yesus.

Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini. Ams 21:1

Namun pertanyaannya apakah kita cukup percaya dan sabar menantikan Tuhan bertindak dalam situasi yang kita hadapi.

All blessings,
Binsar